Posted by pataka on 21st April 2006
Kontroversi penerbitan dan peredaran Majalah Play Boy Indonesia menjadi tontonan yang mendominasi ruang media belakangan ini. Seolah berlomba menyingkirkan berbagai masalah yang sebenarnya jauh lebih penting dan mendasar, seperti kemiskinan, semakin mahalnya pendidikan, penyakit yang menewaskan puluhan orang dalam sekali tepuk, kelangkaan BBM dan bahan pokok yang harganya juga terus melambung tak terjangkau lagi serta para koruptor yang masih bebas berkeliaran. Segala kesulitan hidup mendadak lenyap dari panggung pemberitaan, kini berganti didominasi dengan semangat yang gegap gempita melawan simbol pornografi yaitu Majalah Play Boy edisi Bahasa Indonesia.
Read the rest of this entry »
Popularity: 6% [?]
Posted in Art and Culture | 1 Comment »
Posted by pataka on 31st May 2005
pantatku padat biasa tak istimewa
kulit berjeruk kringat tak langsat
agak seksi agak menggoda agak rata
konon kata mira bencong taman kota
pantatku hanya punya sopan
karenanya dia gak doyan jilat
tidak betah di kursi empuk
hanya kenal emperan berdebu
sungkan dilapisi sutra beludru
anti sodokan dari belakang
meski biasa pantatku tetap menggoda
terima kasih wahai pantat yang setia
kau senada dengan juragan kere-mu
meski ku berharap putus urat mlarat
tapi pantat tak mau hina cara durjana
jangan lupa pantat, cermin hati kita
jakarta, bidakara - akhir mei 2005
Popularity: 6% [?]
Posted in Art and Culture | No Comments »
Posted by pataka on 9th January 2005
tuhan tidak hadir di aceh
tapi aroma kebesaran tertebar di tiap sudut
saat berdiri di puing sekitar masjid yang utuh
ketika terpekur mengenali wajah jajaran jenazah
atau menyaksikan setengah pertemuan kaum kerabat
kadang dalam air mata, selebihnya doa
mereka hanya sedang mati dalam kemuliaan
pencari tuhan tak kan temukan dia di aceh
tapi kau dipaksa percaya kuasanya nyata
yang kau temukan di aceh hanya cinta
aceh, 9 januari 2005
Popularity: 5% [?]
Posted in Art and Culture | No Comments »
Posted by pataka on 23rd December 2004
kesedihan tidak berlalu
cinta patah dan berhenti
hanya bayang-bayang
bahagia dengan tikaman?
untuk jawaban fatamorgana?
nanti tiga bidadari berjalan sendiri
saat waktu berkabut tersibak angin
menyebar bau bunga bangkai
aku menjawab dengan renungan
dan penghuni yang tertinggal
adalah atas nama kepedihan
tiga bidadari akan tersedu
kemana kau mencari tambatan?
ketika cinta tulus meratap di tepian
tersingkir kabut semu menjelma
kau tak bersahabat dengan ketulusan
lantas, tiga bidadari pergi menjauh
lepas dari rengkuhan dan belaian
aku termangu dalam tangisnya
mungkin, bagi mereka cinta adalah tipuan
seperti yang aku sesali di kemudian hari
amarah dendamnya terasa menyala
mahligai ini telah kandas
karam di palung kehinaan
kau, tidak punya jawaban
aku, tetap menggenggam kayuh
kau, kembali meraih belati
harapan hilang dalam pekat kabut
(di kejauhan tiga bidadari mencoba berdamai dengan doa)
kuta, 23 desember 2004
Popularity: 5% [?]
Posted in Art and Culture | 1 Comment »