Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Kepatuhan RIM Terhadap Regulasi di Indonesia (7/7)

Posted by pataka on February 6th, 2011

M. Kesetaraan Perlakuan

Sebagai saran, penulis mencatat adanya keluhan atas inkonsistensi penerapan kebijakan pemerintah terutama di dalam masalah penapisan konten negatif. Di satu sisi RIM telah mematuhi ketentuan walaupun kondisinya belum ideal. Tapi ternyata kepatuhan pemain seluler lainnya justru makin menurun efektifitasnya. Sejumlah ISP dan operator seluler nampaknya tidak melakukan update daftar hitam secara periodik sehingga banyak konten negatif yang lolos dan belum ada inisiatif untuk menapis konten negatif yang lain bukan hanya pornografi saja.

Sedangkan pusat pelaporan konten negatif yang disiapkan pemerintah dan seharusnya menjadi rujukan update (keterbaruan) daftar hitam terbukti tidak berjalan dengan baik. Sehingga seolah tidak ada antisipasi dan pensikapan yang berkelanjutan terhadap perkembangan situs negatif yang akan terus tumbuh.

Pemerintah harus serius menjaga kesetaraan perlakuan terhadap para pemain industri agar tidak menimbulkan kesenjangan, potensi persaingan yang kurang sehat dan suasana ketidakpercayaan yang mengurangi wibawa pemerintah. Ini momentum yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi komprehensif terhadap implementasi kebijakan penapisan konten negatif. Apalagi diketahui bahwa industri ISP sendiri belum melakukannya secara mandatory/default tapi masih berbasis pada permintaan pelanggan, sehingga efektifitasnya rendah.

N. Keunggulan Nawala Project

Salah satu masalah mendasar dalam implementasi kebijakan penapisan konten negatif adalah tidak adanya updated baseline reference terpecaya yang ditunjuk pemerintah. Nawala Project yang terbukti berhasil melayani penapisan konten negatif untuk 12 juta pengguna di Indonesia dan 86 negara lainnya, ditambah 3 juta pengguna RIM (yang juga masih akan terus berkembang). Seharusnya dapat diakomodasi pemerintah dan difasilitasi jadi rujukan dasar (baseline reference) bagi semua ISP karena Nawala Project ini memiliki sejumlah keunggulan:

  1. Black list yang lebih persisten, efektif dan permanen. Domain yang masuk ke dalam kategori penapisan secara keseluruhan memang mengandung konten negatif eksplisit dan isinya tidak akan berubah dalam jangka waktu lama atau seterusnya. Sebagian besar konten negatif bersifat non spesifik dapat ditapis
  2. Berkebalikan dengan solusi DNS, penapisan berbasis URL justru berakibat fenomena balon (pencet di sini, nongol di sana). Konten negatif berpindah dan digandakan dengan cepat oleh pelaku pada alamat URL berbeda, selalu berkejaran dengan upaya penapisannya. Suatu URL disembunyikan dalam situs yang secara umum bukan berisi konten negatif bahkan bersifat private. Penapisan jadi tidak efektif, cepat berubah/tidak permanen, beberapa waktu kemudian kontennya berganti, menyulitkan analisa, sering salah menapiskan
  3. Perlindungan lain yang diperlukan pengguna adalah Phising Attack. ISP umumnya tidak melakukan penapisan Phising Site dan email SPAM/SCAM. Nawala juga menapis Phising Site dan Malware Site yang biasanya menjadi penyebar pornografi, malware dan SPAM/SCAM berisi tipuan/penyesatan
  4. Penapisan berbasis DNS dapat bekerjasama sangat baik dengan upaya/fitur penapisan mandiri berbasis aplikasi pihak ketiga seperti parental control dan web browser add on, URL filtering serta kombinasi metode keyword yang dilakukan oleh ISP, instansi maupun personal. Penggunaannya bahkan jauh lebih mudah karena hanya sekali konfigurasi dapat berlaku selamanya. Sedangkan untuk penapisan URL dan keyword dari waktu ke waktu harus dilakukan update bahkan secara manual. Perlu keterampilan khusus untuk menguasai dan memanfaatkannya secara efektif. Sedang Nawala lebih mudah
  5. Layanan penapisan berbasis DNS relatif lebih diterima oleh masyarakat karena memungkinkan keterlibatan aktif pengguna untuk menentukan sendiri situs/domain serta kategorinya mana yang perlu dimasukkan ke dalam black list. Bahkan bisa dikombinasikan dengan white list yang bisa dimanfaatkan sendiri oleh pengguna sebagai referensi untuk kustomisasi penapisan sesuai kebutuhannya. Masih ada 50 macam kategori penapisan yang lebih detail namun sementara ini belum diaktifkan oleh Nawala
  6. Secara teknis sistem penapisan DNS bisa dikustomisasi serta direplikasi oleh banyak pihak, misalnya dengan membangun mirror (BTIP dan ISP mungkin mau memfasilitasi penempatan di daerah) sehingga meningkatkan kinerja dan kehandalan keseluruhan solusi, sekaligus memberikan alternatif pilihan layanan bagi para pengguna. Karena sebenarnya Nawala Project memang ditujukan sebagai layanan managed/shared service untuk optimalisasi performa bagi pengguna di Indonesia melalui National Exchange (IIX, OIXP)
  7. Untuk meningkatkan keamanan, Nawala bisa mengaktifkan fitur DNS Secure.

Kalau kebijakan itu sudah diputuskan tinggal dipikirkan bagaimana masing-masing pihak yang terkait memberikan kontribusinya kepada inisiatif seperti Nawala Project. Sehingga pemerintah, industri dan masyarakat bisa konsentrasi pada agenda selanjutnya yang lebih strategis seperti: bagaimana secara masif dan berkelanjutan mengkampanyekan program internet bersih, sehat, aman.

Tantangannya adalah pertumbuhan dan perkembangan internet sendiri. Akan selalu ada pengguna awam atau orang baru yang akan jadi sasaran beragam ancaman kejahatan dan konten negatif yang  juga akan selalu berubah dari waktu ke waktu. Selanjutnya mencari dan mengembangkan inovasi baru untuk menangkal hal negatif di Internet serta mengembangkan konten lokal sebagai alternatif penawar menarik minat pengguna agar tidak akses konten negatif.

O. Pemanfaatan Nawala Project Oleh RIM

Pemanfaatan solusi Nawala Project oleh RIM untuk pengguna di Indonesia saat ini sebenarnya menghadapi tantangan nyata yaitu latency akibat routing yang tidak efisien. Proses request dari handheld Blackberry tidak langsung direspon oleh server RIM di Canada namun dikirim kembali ke Indonesia lewat global internet cloud ke server Nawala di Indonesia melalui link internasional milik Telkom dan Biznet selaku pihak sponsor penyedia hosting dan saluran akses. Selanjutnya server Nawala melakukan query ke database blacklist/cache yang bila tidak diketemukan recordnya maka akan diteruskan sebagai proses resolver domain normal/biasa rekursif hingga ke root server dan kembali lagi ke server Nawala, baru dikembalikan ke server RIM untuk memberi jawaban ke handheld Blackberry requester. Proses ini meningkatkan latency 3x round trip normal.

Dari segi etika, sebenarnya penerapan routing ini tidak adil dan membebani Telkom dan Biznet karena mereka secara tidak langsung turut menyumbang akses internasionalnya ke RIM karena dukungannya ke Nawala bersifat CSR untuk siapa saja. Seharusnya RIM juga berkontribusi menyumbangkan akses internasional atau biaya tambahan (CSR) untuk meningkatkan kapasitas link bandwidth sebagai kompensasi yang dapat dimanfaatkan pengguna Nawala lainnya baik di Indonesia maupun di manca negara (global). Meningkatnya request dari pelanggan RIM mengakibatkan kebutuhan bandwidth melonjak.

Menjadi tanggung jawab RIM untuk memperbaiki implementasi penggunaan solusi Nawala dengan menerapkan routing yang lebih sesuai untuk arsitektur layanannya. Setidaknya sementara ini RIM dapat membelokkan request DNS ke server lokal operator yang terhubung ke Nawala agar performanya terjaga.

Pilihan routing sementara ini dapat dipahami mungkin dilakukan RIM karena batas waktu yang sempit. Tinggal bagaimana selanjutnya mendorong RIM untuk dapat melakukan implementasi yang lebih ideal dengan beberapa alternatif:

  1. Menggunakan DNS server operator sebagai request redirector ke Nawala
  2. Membangun DNS resolver/Nawala mirror milik RIM sendiri di Indonesia yang melayani request redirector dari semua carrier partner, sekaligus bisa menjadi cikal bakal infrastruktur relay RIM di Asia Tenggara atau NOC sebagai calon ISP yang ditempatkan di wilayah hukum Indonesia
  3. Membangun DNS resolver/Nawala mirror milik RIM sendiri di Canada.

Secara bisnis seharusnya RIM meminta kepada Nawala Project suatu managed services terpisah berupa mirror sistem Nawala yang ditempatkan di Canada.  Sepenuhnya dibangun dengan biaya RIM dengan kompensasi berupa komitmen kontribusi kepada misi sosial Yayasan Nawala Nusantara. Mirror Nawala yang dikelola sendiri oleh RIM dapat menjadi value added optional bagi layanan RIM untuk memenuhi kebutuhan pengguna tertentu dan tuntutan regulasi sejumlah negara lain, dimana layanan Blackberry juga menghadapi tantangan yang sama.

P. Penutup

Polemik keberadaan RIM/layanan Blackberry di Indonesia memberi pelajaran berharga pada pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat luas. Perkembangan teknologi, internet, perubahan bisnis, pergeseran budaya makin cepat terjadi sehingga menjadi tantangan bagi para pembuat peraturan perundangan serta kebijakan untuk senantiasa memutakhirkan produk regulasi yang ada agar tetap relevan dengan kebutuhan domestik serta tuntutan kecenderungan global.

Pemerintah juga mendapatkan pelajaran bagaimana menerapkan regulasi secara proporsional dengan pendekatan yang tepat sehingga kepatuhan hukum dapat dicapai tanpa mengorbankan kepentingan investasi, bisnis dan konsumennya.

Para pelaku usaha (termasuk RIM) juga menyadari bahwa pemahaman terhadap regulasi sangat penting dilakukan untuk memastikan compliance (kesesuaian) sebelum menyelenggarakan inovasi bisnis dan produk yang hendak dipasarkan. Bilamana diperlukan, konsultasi dan diskusi dengan pihak pemerintah lebih baik dilakukan sejak awal untuk menghindari dispute (perselisihan) dan polemik dikemudian hari yang akan mengganggu investasi, bisnis dan layanan konsumen.

Masyarakat semakin kritis mensikapi perilaku bisnis serta sensitif terhadap kebijakan publik yang berpotensi merugikan hak konsumen dan warga negara, khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Fenomena ini adalah indikasi besarnya kebutuhan masyarakat pada teknologi dan layanan teknologi informasi dan komunikasi yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Pada akhirnya semua pihak diajak untuk lebih menyadari dan memperhatikan aspek negatif pemanfaatan teknologi dan layanan serta pentingnya kolaborasi untuk menanggulangi, mengurangi keberadaan material negatif dan dampaknya secara berkelanjutan sebagai wujud tanggung jawab pada masyarakat yang akan mendorong pemanfaatan teknologi secara optimal untuk kemajuan bangsa.

(M. Salahuddien, penulis adalah aktivis pada sejumlah organisasi IT, praktisi dan konsultan Teknologi Informasi. Saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua ID-SIRTII yaitu Indonesia Security Incident Response Team On Internet Infrastructure)

One Response to “Kepatuhan RIM Terhadap Regulasi di Indonesia (7/7)”

  1. Agung Mozilla Firefox 25.0 Windows 7
    Says on Mozilla Firefox 25.0 Windows 7

    RIM (sekarang bernama BlackBerry) udah mau bangkrut sekarang ini, jadi biar aja

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>