Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Tragedi Pemudik Motor

Posted by pataka on October 9th, 2008

Masih ingat kisah tentang Pasukan Capung?

Berikut cuplikan berita arus mudik: “Keluarga pemudik bersepeda motor terdiri dari bapak, ibu dan seorang balita, tewas mengenaskan terlindas roda belakang truk”. Berita lain: “Bocah laki-laki penumpang sepeda motor selamat dari kecelakaan lalu lintas. Namun kedua orang tuanya tewas seketika di tempat kejadian”. Seorang pemudik yang baru kembali dari Malang – Jawa Timur menceritakan: “di tengah kemacetan arus mudik sekitar tol Cirebon, seorang balita yang sedang tertidur jatuh dari boncengan sepeda motor dan tewas seketika terlindas roda bus di sampingnya”.

Sungguh menyayat pilu nasib Pasukan Capung, maksud hati ingin mudik bersama keluarga akan tetapi berubah menjadi horror! Saya sendiri sehari-hari adalah pengendara motor, anggota Pasukan Capung juga. Jadi saya paham betul bagaimana perasaan para pemudik motor ini dan situasi seperti apa yang mereka hadapi. Apalagi belakangan saya ketahui ada kakak kelas saya di SMA yang tahun ini meninggal dunia pada saat mudik dengan menggunakan sepeda motor. Maka, melalui tulisan ini saya ingin mengkritisi fenomena pemudik motor.

Beberapa hari yang lalu, kami sekeluarga menempuh perjalanan bersepeda motor seharian. Rutenya cukup jauh, sekitar 40 km. Namun tidak lebih panjang dari rute perjalanan pulang pergi ke kantor.

Ceritanya, selama libur lebaran, pekerjaan kami sekeluarga sungguh membosankan. Hanya makan, tidur, nonton TV/DVD, adu games dan main Internet di rumah. Sehingga anak-anak tidak tahan lagi dan ingin berenang. Sasaran semula adalah Ancol (memanfaatkan voucher diskon tiket masuk Atlantis dari Gramedia). Tapi berita di TV menunjukkan suasana sekitar Ancol yang penuh sesak dan kemacetan dimana-mana. Kami urungkan niat ke Ancol dan memutuskan untuk ke lokasi wisata, restoran dan kolam renang Situ Gintung di Ciputat. Dengan pertimbangan, meskipun ramai pengunjung tapi relatif tidak terlalu padat seperti di Ancol.

Karena kami tidak memiliki mobil dan malas mencari taksi (harus keluar gang, naik angkot ke pangkalan Taxi Express di Cilandak Mall yang sopirnya suka jual mahal), maka kami putuskan berkonvoi mengendarai sepeda motor saja. Pagi kami berangkat dari rumah di Pondok Labu menuju ke Ciputat (kampus IAIN Syarif Hidayatullah). Petang harinya menuju Carrefour Lebak Bulus dan rumah saudara di Meruya Selatan. Tengah malam pulang. Perjalanan ini mirip konvoi pemudik motor, karena kami sekeluarga mengendarai 3 motor dengan barang bawaan yang cukup banyak.

Konfigurasi konvoi: 2 motor di depan (Honda Supra X 125 dan Suzuki Shogun) dikemudikan 2 orang adik kembar isteri saya. Keduanya laki-laki, 17 tahun dan baru mendapatkan SIM C (sekalian perjalanan ini jadi test touring). Anak tertua (kelas 1 SMA) menumpang di motor pertama. Anak kedua (kelas 3 SD) menumpang di motor kedua. Motor ketiga (Honda Supra X 125) saya kemudikan dengan penumpang anak ketiga (kelas 2 SD) duduk di tengah dan isteri duduk di belakang. Pengemudi membawa ransel di depan dada dan para penumpang menggendong ransel besar seukuran tubuh masing-masing. Tas besar berisi pakaian kotor dan basah (usai berenang) ditempatkan di ruang tengah antara kemudi sepeda motor.

Faktanya: bersepeda motor menempuh jarak puluhan kilometer dengan beban semacam itu ternyata sungguh sangat berbahaya! Itu yang kami sekeluarga rasakan. Setidaknya berdasarkan pengalaman konvoi kecil dengan keluarga tersebut saya mendapatkan beberapa kesimpulan, faktor apa saja yang menyebabkan fenomena mudik ala Pasukan Capung ini berbahaya, yaitu antara lain:

Pertama, berat penumpang dan muatannya sangat membebani pengemudi
Kedua, posisi muatan dan penumpang yang tidak pada tempatnya, seperti anak-anak yang duduk di depan pengemudi akan menghalangi dan atau menyulitkan kendaraan untuk bermanuver dan atau menjaga keseimbangan
Ketiga, volume muatan yang cenderung melebihi kapasitas daya tampung mengakibatkan ketidakstabilan sehingga kendaraan cenderung oleng, tidak mungkin dipacu melebihi kecepatan 40 – 60 km/jam. Sangat berbahaya apabila misalnya berkendara dengan kecepatan tinggi dan harus melakukan pengereman mendadak. Selain beban muatan akan menyebabkan kelambanan juga akan membuat pengemudi kehilangan keseimbangan
Keempat, dengan kondisi kelebihan muatan semacam itu ditambah situasi lalu lintas yang sangat padat dan kondisi jalan yang tidak selalu mulus, perjalanan akan menjadi sangat lambat dan pengemudi harus berkendara dengan hati-hati
Kelima, lamanya waktu perjalanan dan ketidaknyamanan selama berkendara akan menyebabkan pengemudi dan penumpang cepat mengalami kelelahan
Keenam, perjalanan panjang hingga ratusan kilometer semacam itu seharusnya hanya boleh dijalankan secara berkelompok atau konvoi dengan rute dan pentahapan yang jelas, misalnya beristirahat setiap 2 jam sekali dengan lama minimal 30 menit
Ketujuh, harus ada pimpinan yang bertanggungjawab terhadap kondisi dan keselamatan para anggotanya dan dilengkapi dengan perbekalan pendukung kelompok yang memadai
Kedelapan, konvoi harus dipandu oleh aparat yang berwenang sepanjang perjalanan
Kesembilan, anak-anak dan balita jelas tidak mungkin dilibatkan sebagai penumpang dalam perjalanan yang sangat berat semacam ini. Manusia dewasa saja umumnya tidak sanggup, apalagi anak-anak. Sangat berbahaya.

Saya dapat memahami kenapa banyak pejabat Pemerintahan, Kepolisian, Wakil Rakyat bahkan tokoh masyarakat seperti ulama yang sangat tidak menyarankan mudik dengan menggunakan alat transportasi sepeda motor. Karena memang telah saya buktikan sendiri betapa sangat berbahaya. Sangat tidak sebanding dengan harga keselamatan dan kenyamanan yang dikorbankan bahkan sampai akhirnya harus ditebus dengan nyawa diri sendiri dan keluarga. Mudik ala pasukan capung berpotensi merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Kalau kita celaka, orang lain yang barangkali tidak bersalah mungkin akan ikut menanggung akibatnya. Misalnya, sopir bus yang menabrak balita dalam cerita pembuka di atas.

Yang patut diberikan penghargaan adalah jajaran Polri telah bersikap tegas dan proaktif. Sejak H -7 serentak digelar razia secara khusus kepada pemudik yang menggunakan sepeda motor di semua pintu keluar kota-kota besar terutama di Jabodetabek. Penindakan langsung diberlakukan kepada semua jenis pelanggaran, mulai dari yang umum seperti masalah kelengkapan kendaraan hingga masalah beban muatan yang berlebihan termasuk penumpang, terutama bila membawa anak-anak dan balita. Tidak cukup sampai di situ, walaupun dalam jumlah terbatas, Polri juga berusaha memberikan solusi dengan menyediakan fasilitas transportasi pengganti yaitu bus ekonomi, pengantaran ke terminal terdekat serta penitipan kendaraan secara cuma-cuma. Semata untuk mencegah para pemudik agar tidak membahayakan diri sendiri, keluarganya dan orang lain.

Akan tetapi saya akan tetap menolak apabila ada kebijakan yang melarang kreatifitas masyarakat untuk mudik dengan menggunakan sepeda motor. Karena ritual mudik dengan cara apapun adalah hak asasi, sungguhpun itu berbahaya. Adanya fenomena masyarakat yang sampai nekat menempuh bahaya adalah suatu bukti bahwa telah terjadi kegagalan pelayanan negara kepada rakyatnya. Karena negara, pemerintah dan seluruh aparatnya, para politisi serta pemimpin bangsa harus bertanggung jawab menyelenggarakan sistem transportasi massal yang aman dan nyaman untuk seluruh warga negara. Bukan hanya khususnya pada saat mudik saja, namun juga umumnya untuk transportasi masyarakat sehari-hari.

Mengayomi dan melayani masyarakat adalah amanah, tugas, tanggung jawab, kewajiban, amanat konstitusi yang harus ditunaikan oleh penyelenggara negara. Tetapi semua ini tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Meningkatnya minat pemudik dengan menggunakan sepeda motor dan kendaraan pribadi lainnya sebenarnya menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem transportasi massal yang diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta. Sebab dari tahun ke tahun kebijakan yang dikeluarkan tidak pernah berhasil memperbaiki situasi bahkan kualitas layanannya semakin buruk dan tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Bahkan semua aturan tidak ada yang tegak dan cenderung terlalu mudah dilanggar atau sengaja tidak digubris. Misalnya ketentuan tarif tuslah dan tetap maraknya percaloan. Belum lagi ancaman tindak kejahatan.

Mudik dengan menggunakan sepeda motor adalah sebuah fenomena tersendiri yang sangat kompleks. Mencerminkan kondisi nyata di tengah masyarakat urban kelas menengah ke bawah. Sepeda motor adalah bentuk pilihan, terutama karena alasan ekonomi selain karena alasan praktis. Desain yang kompak dan lincah adalah solusi alat transportasi yang paling dapat diandalkan untuk mendukung mobilitas pengendaranya dalam menembus keruwetan lalu lintas di metropolitan yang rawan kemacetan, cuaca panas, hujan, banjir bahkan kerusuhan. Lebih murah dibandingkan bila menggunakan angkutan umum. Apalagi rutenya terbatas, sementara sepeda motor bebas menuju kemanapun. Selain itu menggunakan sepeda motor berarti irit pengeluaran bahan bakar, biaya operasionalnya seperti parkir murah. Perawatannya pun sederhana, relatif mudah bahkan bisa ditangani sendiri hanya dengan sedikit keterampilan. Untuk mendapatkan sepeda motor banyak tersedia fasilitas kredit tanpa uang mukatanpa persyaratan yang berbelit. Pilihan pembelian baru maupun bekas sangat banyak. Bahkan apabila dibutuhkan setiap saat bisa digadaikan atau dikaryakan misalnya disewakan untuk ojek.

Dengan segala kelebihannya tersebut, tentu menjadi sangat wajar apabila masyarakat kita dari golongan menengah ke bawah di perkotaan terutama di Ibukota ini sangat bergantung kepada alat transportasi sepeda motor. Apalagi bila mengingat bahwa alat transportasi massal untuk masyarakat yang memadai tidak tersedia. Artinya, pelarangan mudik dengan menggunakan sepeda motor baru bisa dilaksanakan secara efektif apabila negara, pemerintah telah memberikan alternatif moda transportasi massal yang aman dan nyaman serta terjangkau oleh masyarakat. Apalagi fenomena mudik terjadi setiap tahun, sehingga seharusnya secara bertahap pemerintah dapat merencanakan antisipasi dan perbaikan serta strategi pentahapan sejak dari jauh hari. Termasuk menyelenggarakan koordinasi dengan instansi terkait seperti Pemda untuk turut serta memikirkan masalah ini.

Sayangnya beberapa komentar pejabat selama musim mudik tahun ini justru mengindikasikan betapa tidak sensitif dan kurangnya pengetahuan mereka. Sebagian ada yang dengan lantang menyerukan pelarangan mudik dengan menggunakan sepeda motor. Seolah, pelarangan itu telah dianggap sebagai suatu solusi. Padahal tentu saja bukan. Ini menunjukkan bahwa para penguasa memang hanya mampu menangani masalah secara parsial dan tidak memiliki strategi dan program jangka panjang yang sekiranya mampu menyelesaikan masalah secara komprehensif.

Jadi, memang pada akhirnya masalah ini akan kembali ke masyarakat itu sendiri. Artinya harus mencari sendiri solusi seolah tidak ada pemerintah yang dapat diharapakan dan diandalkan. Seperti saya, memiliki solusi yaitu: tidak mudik dengan alasan apapun. Karena saya percaya, silaturahim dapat dilakukan kapan saja ada kesempatan, tidak harus pada saat lebaran dan tidak seharusnya hari yang fitri itu kita warnai dengan tragedi atau kesengsaraan serta kesia-siaan. Akan tetapi, tentu saja, tidak semua orang seperti saya. Ada banyak dimensi perspektif lain yang dirasakan terutama oleh 3,5 juta pemudik bersepeda motor. Ya, ini memang fenomena dan tahun depan siklus ini akan berulang.

Saya hanya bisa berharap, semoga para pengelola negara ini segera insyaf dan memperhatikan masalah ini dengan sungguh-sungguh sehingga mampu memberi solusi kepada masyarakatnya yang sudah semakin sempit kehidupannya diterpa aneka kesulitan dan krisis yang tidak kunjung berhenti. Semoga pula tahun depan pemudik bersepeda motor makin meningkat kesadarannya mengenai keamanan dan keselamatan. Sehingga tidak perlu ada korban berjatuhan, terutama anak-anak dan balita. Barangkali perlu disebarluaskan tips mudik bersepeda motor …

Data dan Fakta Mudik Lebaran 2008
(sepeda motor, kendaraan roda 2)

– Jumlah pemudik 3,5 juta orang
– Jumlah pelanggaran 18.092 kasus
– Jumlah kecelakaan 1.246 kejadian
– Jumlah korban jiwa 528.

(Mabes Polri dan Departemen Perhubungan)

5 Responses to “Tragedi Pemudik Motor”

  1. kuchink Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP

    mmmm… ic… nah masalahe saiki numpak angkot mahale mas… (biasa orang indo.. susah cari duit) nyawa nomer belakang…
    penginnya sayang nyawa… cuman pengin juga bawa oleh2 orang dirumah… tapi tetep aja nyawa lebih penting 😡

  2. kuchink Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.5 Windows XP

    mas.. captcha-e sampeyan ra metu… :-\”:-\”

  3. pataka Mozilla Firefox 3.0.3 Mac OS X 10
    Says on Mozilla Firefox 3.0.3 Mac OS X 10

    hehehe pancene ndeso. Captcha sebenarnya memang sudah dimatikan tapi di themes masih keluar. Bentar diperbaiki dulu hehehe …

  4. pataka Mozilla Firefox 3.0.3 Mac OS X 10
    Says on Mozilla Firefox 3.0.3 Mac OS X 10

    Memang naik motor adalah pilihan ekonomis. Apalagi dibandingkan angkutan umum yang juga sama tidak aman dan jauh dari nyaman. Sepakat. Cuma, lebih baik tingkatkan kewaspadaan ketika mengendarai motor dan prinsipnya jangan sampai kita yang melanggar, sabar, mengalah lebih baik kita yang memberi kesempatan dengan asumsi orang lain pengetahuan berlalu lintasnya lebih buruk dari kita …

  5. Windra Mozilla Firefox 1.5.0.12 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 1.5.0.12 Windows XP

    Halo…. blog ku ada post mengenai Megawati yang di hujat hampir 100 ribu orang di facebook, mampir yuuukk…

    Thanks admin…:P

    *blogwalking mode on*

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>