FOSS dan Tender Aplikasi Pemerintah
Posted by pataka on December 22nd, 2006
Pemahaman birokrat terhadap Free Open Source Software (FOSS) masih rendah. Terbukti dalam rencana tender aplikasi Pemerintah, persyaratannya hanya sesuai dengan paradigma bisnis dan spesifikasi proprietary saja. FOSS sulit berkompetisi dan dianggap tidak memenuhi spesifikasi.
Ini menimbulkan iklim usaha yang tidak seimbang dan perlakuan yang tidak adil, karena dalam banyak hal FOSS memang berbeda bahkan bertolak belakang dengan proprietary. Pemerintah harus memberi peluang yang sama dengan menetapkan persyaratan tender yang tidak memihak.
Model Bisnis FOSS
Model bisnis FOSS pada dasarnya berbasis komunitas. Kegiatan produksi, dukungan, pengembangan, pemasaran, hidup dan matinya produk tergantung insiatif komunitasnya, termasuk pengguna sendiri. FOSS boleh dikembangkan, dimodifikasi untuk tujuan komersial asalkan kode sumber tetap terbuka.
Oleh karena itu, vendor FOSS biasanya disebut sebagai pengembang, bukan produsen. Karena pada dasarnya, produk FOSS hampir seluruhnya diproduksi oleh komunitas. Sehingga selalu ada versi komunitas yang sepenuhnya terbuka dan umumnya gratis disamping versi komersial.
Misalnya Red Hat Inc. mengembangkan Red Hat Enterprise Linux (RHEL) secara komersial. RHEL berasal dari Linux produk komunitas yang gratis yaitu Proyek Fedora. Tidak ada perbedaan berarti diantara keduanya, kecuali pengguna RHEL harus membayar untuk dukungan tertentu.
Komunitas Fedora tetap didukung Red Hat Inc. (sponsor dan pengembang). Sebagian pengguna juga berpartisipasi dalam proyek pengembangan yang spesifik serta kustomisasi. Misalnya proyek tutorial bahasa lokal dan pelatihan. Aktifitas ini boleh dikomersialkan atau mendapat sponsor sendiri.
Umumnya, proyek aplikasi FOSS diselenggarakan mandiri oleh gabungan komunitas pengembang dan pengguna secara gotong royong. Sebagian mungkin mendapatkan dana dari sponsor atau diambil alih perusahaan untuk tujuan komersial, misalnya proyek SuSE Linux (kini Novell Inc.).
Vendor tidak memungut biaya lisensi atas penggunaan FOSS. Karena umumnya menggunakan lisensi publik (General Publik License - GPL) atau sejenisnya yang tidak menetapkan hak milik produk. FOSS gratis dan bebas digunakan, disalin, dikembangkan, dimodifikasi karena milik publik.
Pengembang FOSS komersial mendapatkan keuntungan dari menjual dukungan nilai tambah terhadap produk yang digunakan. Misalnya update khusus, kustomisasi, layanan lain seperti pelatihan in house dan beberapa aplikasi yang mengandung lisensi komersial, misalnya material multimedia.
Lisensi pada aplikasi FOSS, berbeda bahkan bertolak belakang dengan lisensi proprietary yang justru melakukan eksploitasi dan komersialisasi terhadap hak milik, penggunaan dan pengembangannya. Perusahaan melakukannya secara tertutup, sehingga pengguna akan selalu tergantung.
Sesuai model bisnis masing-masing, vendor dan pengembang FOSS umumnya adalah perusahaan jasa. Sedangkan vendor proprietary umumnya adalah perusahaan prinsipal atau pemegang merk dan penjual / reseller produk aplikasi. Spesifikasi dan orientasi bisnisnya tentu saja berbeda!
Tabel Perbedaan Model Bisnis
|
PERBANDINGAN |
FOSS |
PROPRIETARY |
|
Kode Sumber |
- Terbuka |
- Tertutup |
|
Pengembang |
- Komunitas, vendor |
- Vendor |
|
Jenis Produk |
- Versi komunitas (gratis) - Versi vendor (komersial) |
- Versi trial (shareware) - Versi lisensi (komersial) |
|
Lisensi Penggunaan |
- GPL/Publik, terbuka, bebas, gratis - Tidak terbatas jumlah pengguna - Tidak terbatas jumlah produk/update |
- Proprietary, tertutup, komersial - Terbatas, per pengguna - Terbatas, per produk, per update |
|
Update Produk |
- Komunitas (gratis) - Vendor (komersial) |
- Vendor (komersial) |
|
Waktu Update |
- Setiap saat, bebas, banyak alternatif |
- Periodik, terbatas, satu sumber |
|
Kustomisasi Produk |
- Komunitas (gratis) - Vendor (komersial) - Dapat dilakukan sendiri |
- Vendor (komersial) |
|
Bentuk Purna Jual |
- Layanan Komunitas (selamanya) - Vendor (komersial, batas waktu) - Dapat membentuk dukungan sendiri |
- Vendor (komersial, batas waktu) |
|
Layanan Nilai Tambah |
- Layanan Komunitas (selamanya) - Vendor (komersial, batas waktu) |
- Vendor (komersial, batas waktu) |
|
Dokumentasi Aplikasi |
- Vendor (komersial, gratis) - Pengembang lain (komersial, gratis) - Komunitas, pengguna (gratis) |
- Vendor (komersial) |
|
Tutorial, Pelatihan |
- Komunitas, pengguna sendiri (gratis) - Pelatihan lokal (komersial, gratis) - Vendor (komersial) |
- Vendor (komersial) - Pelatihan lokal (komersial) |
|
Hot Line, Help Desk |
- Vendor (komersial, opsional) - Pengembang lain (komersial, gratis) - Komunitas, pengguna (gratis) |
- Vendor (komersial, opsional) - Vendor lain (komersial) |
|
Repository Online |
- Vendor (komersial) - Pengembang lain (komersial, gratis) - Komunitas, pengguna (gratis) |
- Vendor (komersial) |
|
Spesifikasi Usaha |
- Bidang jasa / layanan |
- Bidang perdagangan / penjualan |
Keunggulan FOSS
Dunia FOSS menawarkan kebebasan inovasi yang nyaris tanpa batas. Misalnya, berkat kode sumber yang terbuka, produk yang sudah “mati” (tidak dikembangkan lagi), dapat “dihidupkan kembali” oleh penggunanya dengan dukungan pengembang lain atau berubah menjadi proyek dan produk baru.
Pada produk proprietary justru ada kekhawatiran, bila vendor bangkrut, aplikasinya ikut mati sehingga merugikan pengguna. Kini vendor dituntut untuk membuka kode sumbernya bila bangkrut, agar dapat dilanjutkan pengembangan aplikasinya oleh pihak lain atau oleh pengguna sendiri di kemudian hari.
Tuntutan serupa juga meluas untuk produk yang dinyatakan kadaluwarsa secara sepihak oleh vendor. Keputusan ini seolah memaksa konsumen untuk membeli lisensi aplikasi versi baru dan penambahan investasi peralatan yang sebenarnya tidak dibutuhkan karena cukup mengunakan yang lama.
Komunitas FOSS justru mengembangkan produk khusus untuk hardware yang sudah tidak diproduksi. Banyak pengguna komputer lama seperti kalangan pendidikan yang tidak mampu membeli hardware baru, mendapat solusi optimasi dan utilisasi investasi dari asset lama yang dimilikinya.
FOSS pilihan bagi pengembang hardware khusus (customize) dan industri lokal, misalnya embedded system (router, firewall, IP PBX, VOIP, wireless systems), manufaktur produk generik (WiFi, PC, Notebook, PDA dll.) dengan harga murah seperti yang banyak dilakukan oleh China dan Taiwan.
Bagi industri lokal dan manufaktur bila menggunakan aplikasi proprietary, biaya produksi menjadi tinggi karena harus membayar lisensi bagi setiap produk turunan yang dihasilkan. Industri akan lemah dan tergantung kepada vendor aplikasi, sehingga inovasi menjadi terbatas.
Produk proprietary juga rawan terhadap isu keamanan. Sebuah kelemahan perlu waktu lama sebelum mendapat perbaikan, karena dikerjakan secara sepihak. Kode sumber yang tertutup juga dicurigai mengandung program tersembunyi yang disalahgunakan untuk mencuri rahasia konsumen.
Kode sumber FOSS yang terbuka menjamin integritas pengembang, tidak mungkin ada program yang tersembunyi. Kelemahan dapat cepat ditemukan dan dilakukan perbaikan karena dikerjakan banyak orang. Konsumen juga dapat menguji terlebih dahulu produk aplikasi yang ditawarkan.
|
PERBANDINGAN |
FOSS |
PROPRIETARY |
|
Kebebasan Inovasi |
- Terbuka, tidak terbatas |
- Tertutup, dibatasi kebijakan vendor |
|
Aplikasi Kadaluwarsa |
- Dapat dikembangkan lagi |
- Tergantung kebijakan vendor |
|
Hardware Lama |
- Dukungan komunitas tetap ada - Dapat dikembangkan lagi |
- Umumnya dukungan dihentikan - Tergantung kebijakan vendor |
|
Program Tersembunyi |
- Kode sumber terbuka - Dapat diuji dan diaudit |
- Kode sumber tertutup - Tidak dapat diuji dan diaudit |
|
Solusi Kelemahan |
- Cepat, setiap saat, oleh komunitas |
- Periodik, tergantung vendor |
|
Embedded System |
- Engineering dilakukan komunitas |
- Engineering tergantung vendor |
|
Manufaktur (OEM) |
- Sumber terbuka, bebas digunakan - Tidak terbatas jumlah produk turunan |
- Sumber tertutup dan terbatas - Biaya lisensi per produk turunan |
Nilai Ekonomi FOSS
Pada dasarnya produk proprietary bukanlah asset, karena lisensi bersifat hak pakai dan tidak dapat dipindahtangankan. Pada jenis lisensi tertentu (misalnya OEM), melekat pada hardware, bila rusak maka lisensi hangus. Ganti hardware berarti harus membeli lisensi yang baru.
Konsumen harus membeli lisensi baru bila produk dinyatakan kadaluwarsa atau dukungannya dihapus oleh vendor. Sementara aplikasi terbaru seringkali menuntut spesifikasi hardware lebih tinggi yang mengakibatkan investasi tambahan yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Produk FOSS umumnya sudah dilengkapi berbagai aplikasi untuk berbagai macam fungsi keperluan dalam satu paket tanpa harus membeli. Ditambah update berkala yang juga bebas biaya. Sehingga biaya kepemilikan menjadi sangat rendah.
Sedangkan produk proprietary, untuk setiap aplikasi, satu fungsi masing-masing harus membeli, juga setiap update. Selama masa pemakaian biaya akan semakin tinggi. Devisa juga harus keluar karena nyaris tidak ada vendor aplikasi proprietary lokal.
Dalam jangka panjang, produk proprietary akan ditinggalkan karena mengakibatkan investasi yang semakin mahal. Banyak Pemerintahan di Eropa, Amerika Selatan, Asia serta negara berkembang kini menolak dominasi proprietary dan mengadopsi FOSS demi kemandirian dan kebebasan.
Tentu saja, keputusan beralih ke FOSS juga memiliki konsekuensi yang tidak sederhana. Perlu sosialisasi untuk membudayakan dan memasyarakatkan FOSS. Anggaran dialihkan untuk membiayai pengembangan dan kustomisasi serta memberi insentif pada inisiatif FOSS setempat.
Bila dianalisa dengan cermat, pilihan FOSS akan terbukti lebih bermanfaat dibandingkan proprietary terutama dalam strategi jangka panjang pengembangan industri dalam negeri, optimasi pemanfaatan, efektifitas dan efisiensi investasi yang sudah dilakukan serta multiplier effect yang akan terjadi.
Tabel Nilai Ekonomi Jangka Panjang
|
PERBANDINGAN |
FOSS |
PROPRIETARY |
|
Hak Atas Produk |
- Hak penggunaan secara bebas - Hak modifikasi, kustomisasi - Bebas dipindahtangankan |
- Hak pakai terbatas per pengguna - Tidak bisa dipindahtangankan - Tidak memiliki nilai buku (asset) |
|
Biaya Kepemilikan |
- Rendah, bebas biaya - Update bebas biaya - Penambahan aplikasi bebas biaya - Biaya tetap selama masa pemakaian |
- Tinggi, berbayar - Bertambah setiap terjadi update - Meningkat sesuai jumlah aplikasi - Meningkat selama masa pemakaian |
|
Penggunaan Devisa |
- Rendah, hampir tidak ada |
- Tinggi, tidak ada vendor lokal |
|
Perubahan Versi |
- Bebas biaya lisensi - Tetap ada dukungan |
- Membeli lisensi baru - Dukungan dihentikan |
|
Perubahan Hardware |
- Bebas biaya update aplikasi |
- Membeli lisensi baru |
|
Perubahan Pengguna |
- Bebas biaya penambahan lisensi |
- Membeli lisensi baru |
|
Pengalihan Anggaran |
- Dapat dilakukan untuk insentif |
- Tidak dapat dilakukan |
|
Optimasi Investasi |
- Optimasi aplikasi - Optimasi perangkat |
- Tidak ada, harus investasi baru - Tidak ada, harus investasi baru |
|
Efisiensi, Efektifitas |
- Efisiensi anggaran - Efektifitas pemanfaatan asset |
- Anggaran tidak efisien - Optimasi asset rendah |
|
Multiplier Effect |
- Tumbuhnya jasa nilai tambah - Tumbuhnya pengembang lokal - Inovasi industri dan manufaktur lokal - Turut dalam kepemilikan teknologi |
- Ketergantungan kepada vendor - Jasa dan pengembang tergantung - Inovasi terbatas tergantung vendor - Teknologi tetap milik vendor |
|
Sifat Teknologi |
- Publik - Komoditas sosial |
- Private - Komoditas kapital |
Peluang FOSS
Tender legalisasi aplikasi Pemerintah bertujuan memerangi pelanggaran hak kekayaan intelektual (HAKI). Pemerintah adalah panutan, tolok ukur dan trend setter bagi masyarakat. Proyek Pemerintah adalah insentif roda ekonomi dan industri. Proyek legalisasi ini diharapkan mempengaruhi masyarakat luas untuk turut menegakkan HAKI dengan mulai menggunakan aplikasi komputer yang legal.
Karena luasnya pengaruh ini, maka Pemerintah harus berhati-hati dan tidak boleh terkesan memberi peluang monopoli pihak proprietary. Kriteria tender yang diumumkan nampak menguntungkan posisi proprietary, sehingga tidak tercipta equal level playing field sebelum tender/kompetisi dilaksanakan.
Proprietary mendapat keuntungan dari ketergantungan pengguna dan popularitas akibat pembajakan. Maka, pihak FOSS juga berhak diberi kesempatan sosialisasi, sehingga calon pengguna mengenal dan memiliki pengalaman menggunakan FOSS serta mengetahui strategi migrasi.
Kriteria tender berupa keharusan melakukan legalisasi dalam jangka waktu yang sama, menjadi tidak adil bagi kubu FOSS, karena produk mereka belum familier bagi calon pengguna. Perlu waktu dan biaya tambahan untuk menerapkan strategi migrasi yang tepat dan proses alih pengetahuan.
Kubu proprietary praktis hanya perlu menerbitkan lisensi atau instalasi ulang, karena produk tidak sah yang sekarang digunakan tidak ada bedanya dengan produk yang sah.
Tanpa sosialisasi terlebih dahulu, produk FOSS akan menghadapi resistensi dari calon pengguna. Maka kriteria tender berupa batas waktu itu akan cenderung menguntungkan pihak proprietary. Dalam tender Pemerintah, kriteria yang berpihak pada salah satu pemain tentu harus dihindari.
Ketersediaan Driver
Demikian juga ketentuan jaminan ketersediaan dan fungsionalitas driver untuk hardware eksisting. Kriteria ini memaksa calon pengguna untuk hanya memilih aplikasi proprietary. Karena produk FOSS tidak diperhitungkan kompatibilitasnya dalam keputusan pembelian hardware sebelumnya. Sehingga mungkin akan terjadi banyak inkompatibilitas peripheral ketika dilakukan migrasi.
Sensus perlu dilakukan untuk mengetahui kompatibilitas hardware yang ada terhadap proprietary maupun FOSS. FOSS mampu menyediakan driver yang diperlukan, asalkan ada data dan cukup waktu untuk melakukan pengembangan sebelum dan sesudah tender.
Permasalahan driver pada FOSS terjadi karena vendor hardware banyak terikat pada masalah paten, lisensi dan perjanjian tertutup yang menyangkut kepentingan banyak pihak karena satu produk terdiri dari berbagai macam komponen yang masing-masing diproduksi dan dimiliki teknologinya oleh pihak lain dan ini merupakan praktik bisnis yang telah berlangsung lama.
Sehingga memang pengembang FOSS tidak mungkin mendapatkan kode sumber yang dibutuhkan. Sebagai akibatnya, banyak hardware yang tidak memiliki driver untuk platform FOSS. Terutama peripheral pihak ketiga (third party add on) yang terpisah dari komputer seperti printer dan scanner.
Namun seiring dengan pertumbuhan FOSS, kini semakin banyak vendor membuka kode sumber untuk dikembangkan secara native atau mengijinkan reverse engineering kepada pihak pengembang FOSS. Sebagian vendor juga berusaha mempercepat masa berlaku berbagai perjanjian tertutup dan paten serta menurunkan harga lisensi, bahkan secara aktif bergabung dalam proyek pengembangan driver untuk platform FOSS. Atau bekerjasama dengan vendor FOSS seperti Red Hat Inc. dan SuSE untuk mengembangkan driver bersama-sama, walaupun beberapa diantaranya masih tetap proprietary.
Untuk peripheral yang sudah terpasang dalam produk seperti Wireless dan VGA pada PC / Notebook, sebenarnya pada saat ini kompatibilitasnya sudah sangat tinggi. Sehingga ketika diinstall Linux, sudah ada driver yang sesuai dan semua fungsi dapat dikenali dengan baik. Apalagi semakin banyak vendor yang menawarkan paket PC / Notebook dengan pre-installed aplikasi FOSS. Terutama untuk produk entry level yang tingkat persaingannya tinggi, vendor cenderung memilih peripheral yang sudah “terbuka” sehingga dapat menekan biaya paten dan lisensi yang berakibat pada harga jual produknya.
Bila FOSS menjadi platform utama proyek legalisasi ini, industri pengembangan aplikasi lokal akan tumbuh pesat, termasuk untuk memasok driver. Adopsi perlu dipercepat dengan mewajibkan vendor hardware menyediakan driver multi platform bagi semua produk yang beredar di Indonesia.
Solusi Dual Platform
Sebenarnya, dalam jangka pendek banyak alternatif solusi yang lebih fair, antara lain dengan menerapkan kebijakan dual platform. Untuk aplikasi dan peripheral tertentu yang tergantung pada platform proprietary, maka pilihan tersebut tentu tidak dapat dihindari.
Untuk aplikasi perkantoran secara umum, sebagai kebutuhan utama lembaga pemerintahan, sebagian besar kebutuhan pengguna sudah dapat dipenuhi oleh solusi FOSS. Bila ini dilakukan, penghematan besar-besaran akan terjadi, sementara urgensi jangka pendek legalisasi aplikasi juga tercapai.
Kriteria lain seperti keharusan menyediakan dukungan lokal, pada dasarnya dapat dipenuhi kedua belah pihak. Tetapi, harus dipahami model pendekatan dan penyelenggaraan dukungan dari kedua kubu sangat berbeda sehingga berpengaruh langsung terhadap struktur biaya.
Bila kriteria dukungan ini menjadi dasar penilaian tender secara terpisah dari struktur biaya, maka harga solusi FOSS akan nampak lebih tinggi dibandingkan proprietary. Komersialisasi FOSS umumnya pada sisi jasa bukan pada produk. Sehingga, metode penilaian untuk solusi FOSS harus dibedakan.
Jika metode penilaian tidak dibedakan, mungkin penawaran FOSS akan didiskualifikasi karena harga produk tidak dicantumkan sementara biaya dukungan melebihi batasan. Atau justru biaya dukungan terlalu rendah karena pada dasarnya dukungan untuk FOSS otomatis diberikan oleh komunitas.
Panitia tender mungkin akan menerima penawaran solusi FOSS yang beragam dan ekstrim. Misalnya, peserta menawarkan versi komunitas tanpa dukungan khusus sehingga harganya rendah. Sementara peserta lain menawarkan versi komersial dengan dukungan enterprise, sehingga jauh lebih mahal.
Tabel Ketimpangan Kriteria Tender
|
PERBANDINGAN |
FOSS |
PROPRIETARY |
|
Jangka Waktu |
- Perlu sosialisasi calon pengguna - Perlu biaya dan waktu tambahan - Belum ada pengalaman migrasi - Belum ada pengalaman menggunakan - Kemungkinan resistensi pengguna - Dirugikan, karena perlu waktu calon pengguna untuk mengenal FOSS |
- Pengguna sudah familier - Tidak perlu melakukan migrasi - Tidak ada biaya tambahan - Diuntungkan, karena pengguna sudah menggunakan (bajakan) |
|
Ketersediaan Driver |
- Perlu inventarisasi (sensus) hardware - Dirugikan, karena FOSS tidak dilibatkan dalam keputusan pembelian hardware - Perlu waktu dan biaya pengembangan - Terhalang ketentuan lisensi vendor - Perlu dukungan peraturan Pemerintah mewajibkan vendor menyediakan driver yang mendukung multi platform - Solusi altenatif dual platform |
- Sudah tersedia sebelum tender - Diuntungkan, karena keputusan pembelian hardware menggunakan aplikasi yang sama sejak semula |
|
Dukungan Lokal |
- Model bisnis menjual jasa - Menonjolkan kompetensi solusi - Berpengaruh pada struktur harga |
- Model bisnis menjual produk - Menonjolkan kompetensi produk |
|
Model Penilaian |
- Banyak aspek, terutama jasa - Variasi penawaran bisa ekstrim - Perlu model penilaian yang berbeda |
- Sedikit aspek, terutama produk - Variasi penawaran terbatas - Model penilaian umum |
Pentahapan Implementasi FOSS
Bila Pemerintah memilih strategi pentahapan, harus jelas road map migrasi. Jangan sampai aplikasi proprietary terlanjur dibeli dan kadaluwarsa, tapi program migrasi belum dilakukan. Negara dirugikan karena terus membeli lisensi baru akibat ketergantungan yang mengancam kinerja pemerintahan.
Pentahapan juga dapat menimbulkan pertanyaan mendasar terhadap manfaat pembelian lisensi proprietary. Karena apabila urgensi legalisasi ini tidak membawa implikasi hukum apapun, maka lebih baik proyek ditunda atau dana dialihkan untuk melakukan sosialisasi dan proses migrasi FOSS.
Dengan kesabaran dan upaya bersama, mungkin Pemerintah tidak perlu melakukan tender dan negara dapat berhemat. Karena di dunia FOSS, ada pilihan solusi komersial atau komunitas yang murah meriah dimana keduanya sama-sama menawarkan kemandirian dan kebebasan inovasi.
(M. Salahuddien, penulis adalah praktisi Teknologi Informasi. Saat ini aktif di Asosiasi WARNET Indonesia - AWARI dan Asosiasi Indonesia Wireless LAN Internet - IndoWLI).
Popularity: 26% [?]