Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Eksotisme Ritual Jaman Kerajaan di Indonesia

Posted by pataka on September 14th, 2006

Menurut saya ada yang terlewat dan ini terlalu penting untuk tidak disinggung. Yaitu, kebudayaan yang dibawa agama Hindu dan Budha jauh sejak sebelum abad ke 7 hingga akhir abad 14 sangat mendominasi karakter suku bangsa melayu di nusantara.

Pada abad ke 7 ada Sriwijaya yang menganut agama Hindu-Budha terbesar di dunia dan belum pernah ada tandingannya. Kemudian di Jawa ada Mataram Hindu dan dinasti Syailendra yang menganut agama Budha dengan peninggalan candi Borobudur pada abad ke 9.

Kejayaan kerajaan di nusantara berlanjut pada awal abad ke 13 dengan berdirinya Singasari yang menganut sinkretisme Hindu, Budha, Syiwa dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dimana raja adalah perwujudan Budha dan para dewa Hindu tersebut. Puncaknya ada pada masa Kertanegara (raja terakhir).

Majapahit melanjutkan kejayaan Sigasari pada akhir abad ke 13 hingga akhir abad 14. Pengaruh Majapahit jauh lebih kuat dan mengakar ke dalam kebudayaan masyarakat. Pada akhir abad 13 Majapahit runtuh dan sebagian pengikutnya dari kaum kesatria dan rakyat biasa mengasingkan diri ke wilayah Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur yang dianggap sebagai pusat spiritual mereka. Masyarakat Bromo Tengger Semeru hingga kini menganut suatu kepercayaan yang meneruskan sinkretisme Hindu, Budha, Syiwa dan Waisnawa namun terbagi dalam beberapa aliran yang berbeda di setiap wilayah.

Sebagian lagi sisa Kerajaan Majapahit, terutama terdiri dari kaum pendeta dan bangsawan mengasingkan diri ke Bali dan pada akhirnya menjadi budaya dan agama Hindu Bali yang ini berbeda dengan aliran agama Hindu manapun di dunia maupun di negara asalnya India dan Srilangka. Budaya Hindu Bali sendiri adalah sinkretisme terhadap kepercayaan lain yang berkembang di Jawa pada mulanya selama berabad-abad.

Ajaran Islam sendiri baru memberikan warna sejak awal abad ke 15 melalui Kerajaan Demak, Pajang hingga Mataram Islam namun ini terutama berpengaruh di Jawa saja. Sedangkan di luar Jawa terutama Sumatera, pengaruh Islam diawali sejak awal abad ke 14 melalui Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang kemudian bisa menyebarkan pengaruh hingga ke Sumatera Utara, Tapanuli serta Sumatera Barat (Minangkabau).

Meskipun sama-sama Islam dan juga beraliran tasafuw (asalnya dipercaya Islam yang pertama kali datang di Aceh beraliran Syiah) akan tetapi kebudayaan yang dihasilkan berbeda antara Islam di Sumatera dan Islam di Jawa. Islam Sumatera relatif lebih ke-arab-arab-an dipadukan ke dalam budaya melayu yang mendominasi wilayah Sumatera sejak masa Sriwijaya. Sementara di Jawa, Islam justru melebur ke dalam sinkretisme Tasawuf Islam, Hindu, Budha, Syiwa, Waisnawa dan bahkan animisme dan dinamisme di dalam Kepercayaan Kejawen. Islam di Jawa adalah produk campuran, cultural mixed yang sudah menyatu dan punya bentuk sendiri berbeda dengan budaya Islam di manapun bahkan dalam banyak hal bertentangan dengan nilai budaya Islam yang radikal terutama yang berkiblat ke arab (misal paham Wahabi).

Menumpang kekuasaan kerajaan Islam Jawa maka versi Islam dan budaya sinkretisme Jawa ini kemudian menyebar ke nusantara dan sekaligus sebagai alat perlawanan melawan kolonialisme serta imperialisme yang juga diboncengi budaya dan agama Nasrani (Protestan dan Katholik).

Peta sebaran wilayah pengaruh budaya dan agama di Indonesia ini pada akhirnya menjadi permanen seiring dengan berdirinya NKRI. Sumatera yang sejak awal memiliki karakter Islam sendiri bergaya melayu tetap tidak terpengaruh oleh Islam versi Jawa. Sementara Kalimantan dan Sulawesi (kecuali bagian utara) ada banyak mengikuti gaya budaya Islam Jawa. Demikian juga Nusa Tenggara Barat serta Maluku Utara. Terutama di wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Islam Jawa maupun yang secara historis ada kerajaan tersendiri misalnya Gowa, Ternate, Tidore.

Bali tetap bertahan dengan budaya Hindu-nya yang khas seperti di komunitas masyarakat Bromo, Tengger, Semeru. Sedangkan di beberapa wilayah yang menjadi basis kekuatan Kolonial wilayah Timur pada akhirnya berasimilasi dengan budaya barat dan juga agama nasrani terutama Protestan seperti Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Sedangkan wilayah bekas kekuasaan Portugis, lebih banyak terpengaruh dengan Katholik misalnya di Nusa Tenggara Timur.

Melihat sejarah penyebaran dan faktor yang mempengaruhi maka jelas sekali bahwa budaya lokal adalah faktor yang dominan di dalam bentuk praktis keagamaan di Indonesia. Dengan kata lain tidak ada ajaran agama-agama besar ini yang benar-benar murni diterapkan seperti asalnya yang asli. Pengaruh budaya lokalnya justru lebih kuat. Bahkan ajaran Nasrani yang banyak dipengaruhi oleh budaya barat tidak terlalu banyak mengubah watak budaya setempat.

Pada dasarnya agama-agama asing ini menyadari keragaman kultural yang sangat kaya dan kuat berakar selama ribuan tahun. Tidak mungkin suatu faham baru melawan budaya adiluhung semacam itu. Maka metode yang dipilih adalah asimilasi kultural termasuk menerima eksotisme dan erotisme fisik atau seksual yang bahkan juga mempengaruhi praktek ritual .

Sehingga sebenarnya dapat dipastikan bahwa banyaknya keragaman ekspresi seni budaya tradisional yang bernuansa seksual seperti dalam relief, simbolisme seperti lingga yoni, erotisme di dalam ritual, adalah budaya asli yang tetap bertahan serta nyata-nyata tidak dieliminasi oleh penetrasi agama-agama asing sejak Hindu, Budha, Islam dan Nasrani dan tetap menyatu dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan bisa menjadi harmoni. Atau dengan kata lain, selama berabad-abad tidak menjadi masalah. Bahkan Wali Songo pun tidak mempermasalahkan. Terbukti bahwa dari cara, seni, budaya berpakaian pun tidak terlalu berbeda sejak lebih 14 abad yang lalu.

Adalah pertanyaan besar bagi kita semua yang memperhatikan sejarah perjalanan budaya bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini apabila sekarang ada upaya memaksakan suatu ideologi moral dan keyakinan keagamaan yang justru tidak ada akarnya di dalam kebudayaan kita dan bahkan kemudian menjadi kebenaran tunggal yang akan menggusur semuanya.

Kalau mereka menggunakan dasar agama dan kepercayaan sebagai nilai moral yang mendasari usulan konyol tentang pornografi dan pornoaksi, katakanlah membawa nama Islam atau Nasrani, maka jelas itu bukan Islam atau Nasrani yang sebagaimana dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak jaman Samudera Pasai maupun Wali Songo.

Ini bisa menjadi awal dari chaos budaya yang akan benar-benar menghancurkan ikatan yang selama ini mempertahankan keanekaragaman di dalam satu bangunan negara ini. Gejolak akan terjadi bukan hanya di Bali yang Hindu atau Papua yang Nasrani, tetapi juga di Nias yang animisme, Sunda yang masih menganut kepercayaan leluhur, Jawa yang aliran kepercayaan dan Batak yang juga ada menampilkan ketelanjangan di dalam ekspresi budayanya apalagi Minahasa yang sekalipun Nasrani tetapi budaya leluhur masih amat sangat kuat.

Mereka yang memaksakan hal ini sebaiknya belajar lagi tentang Indonesia dan patut dipertanyakan ke-Indonesia-an nya.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>