Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Pokok Pikiran Penataan Frekuensi 2.4 Ghz

Posted by pataka on August 17th, 2006

POKOK-POKOK PIKIRAN INDOWLI TENTANG
PENATAAN PITA FREKUENSI 2400 – 2483.5 MHz

Latar Belakang

Dengan dibebaskannya pita frekuensi 2.4 GHz sejak 1½ tahun belakangan ini, ternyata memberikan manfaat luas bagi masyarakat antara lain :

1. Terjadi peningkatan penetrasi pemakaian internet ke setiap pelosok negeri, dibandingkan dengan periode sebelumnya dimana 2.4 GHz masih teregulasi.
2. Banyak pihak merasakan bahwa komunikasi data berbasis IP sangat bermanfaat dengan tersedianya infrastruktur nirkabel yang terjangkau.
3. Terjadi penambahan lapangan kerja yang sangat berarti.
4. Multiplier-effect secara ekonomi dari deregulasi pita frekuensi ini juga nyata terjadi.

Dari semua efek positip di atas juga membawa konsekuensi buruk, seperti misalnya :

1. ‘Kanibalisme’ antar sesama pengguna frekuensi yang tidak berbayar ini, menyebabkan adanya keresahan2 pada sebagian komunitas. Adanya perasaan terinjak-injak oleh yang lebih kuat. Ada persepsi terjadi ketidak-adilan antar sesama pengguna. Terjadinya saling menyalahkan yang berlarut-larut.
2. Makin sempitnya pita frekuensi yang dapat dimanfaatkan di suatu daerah akibat dari ketidak pahaman atas pentingnya asas ‘frequency reuse’. Yang pada gilirannya akan mengakibatkan pemborosan pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas ini.

IndoWLI sebagai wadah komunitas pengguna teknologi infrastruktur nirkabel terutama yang berbasis frekuensi 2.4 GHz. Di setiap kesempatan selalu berusaha untuk meningkatkan manfaat yang bisa didapat dan menekan setiap efek buruk ikutannya. IndoWLI selalu mencoba untuk menganalisa dan mencari jalan keluar dari setiap masalah yang ada.

Analisa Situasi

Teknologi Wireless berbasis frekuensi 2.4 GHz bersama dengan KEPMEN 02/2005 menerobos barier nilai perolehan untuk produk dan jasa telekomunikasi data.

Harganya terjangkau, fleksibilitasnya cukup tinggi, cukup handal dan relatif mudah dikuasai karena berlimpahnya sumber informasi untuk memanfaatkannya. Sehingga memancing minat banyak pengguna internet dan telekomunikasi data lainnya. Pengguna yang pada mulanya terbatas pada WARNET, sekarang sudah meluas sampai ISP besar-kecil memanfaatkan frekuensi ini untuk mendistribusikan jasanya, perusahaan-perusahaan swasta besar-kecil juga memilih frekuensi ini, Pemerintah Daerah, Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah, BUMN tidak ketinggalan memanfaatkan frekuensi yang murah dan mudah didapat ini.

Kebutuhannya sendiri terus meningkat, mulai dari sekedar kebutuhan solusi alternatif infrastuktur, jasa mendesain network infrastruktur, jasa penyedia konten dan seterusnya sampai memenuhi kebutuhan software aplikasi telekomunikasi data itu sendiri.

Sehingga terjadi ekskalasi kebutuhan secara horizontal dan vertikal akibat dari dibebaskannya pita frekuensi ini.

Peningkatan kebutuhan akan pemanfaatan teknologi ini, pada gilirannya mendorong para pemasok untuk terus masuk dan menyuplai kebutuhan ini.

Mulai dari calon pengusaha yang sedang belajat berusaha, pengusaha tingkat lokal, pengusaha tingkat nasional sampai pengusaha tingkat internasional, memasok berbagai produk dan jasa mereka. Semuanya mempunyai kesempatan yang sama dan bersaing ketat.

Sehingga usaha-usaha di bidang wireless berbasis 2.4 GHz sudah menjadi industri tersendiri.

Stakeholder dari industri ini antara lain:

1. Distributor dan Importir perangkat wireless dan kelengkapannya
2. Penjual/reseller dari perangkat wireless dan kelengkapannya
3. ‘Pengusaha’ RT/RW Net
4. WARNET dan Game Net
5. ISP ‘unlegal’ / subnet dari ISP legal
6. ISP legal besar dan kecil
7. Kontraktor dan Konsultan besar dan kecil
8. Semua pihak yang menginginkan tersedianya infra struktur komunikasi data dengan harga yang terjangkau. Antara lain: kantor-kantor pemerintah daerah, BUMN dan Polisi.

Interaksi dari para stakeholder ini juga membawa konsekuensi buruk seperti yang diuraikan di atas. Ada 2 faktor yang bisa dipakai untuk menganalisa efek buruk tersebut.

1. Faktor Teknis

Kurangnya pengetahuan teknis tidak hanya ada pada pemasok perangkat, juga pada Kontraktor atau System Integrator yang menginstalasi perangkat wireless 2.4 GHz ini. Masalah yang tipikal terjadi adalah pemakaian power transmisi yang berlebihan, pelanggaran kesepakatan maksimum 36 dBm EIRP dan kurangnya pengetahuan cara pemasangan radio khusus telekomunikasi data yang baik dan benar.

2. Faktor Non Teknis

a. Kurangnya kesadaran, sangat mungkin akibat ‘ignorancy’, dari sebagian stakeholders atas konsekuensi pemakaian power yang berlebih bagi diri mereka sendiri dan orang lain, untuk saat sekarang maupun yang akan datang.

b. Batas yang sangat tipis antara :

– Sharing akses internet secara gotong royong (non-profit) dari sekelompok orang.
– Sharing internet akses yang dikelola oleh seorang individu untuk sekedar mencari uang jajan atau meringankan uang kuliah.
– dengan usaha yang bersifat komersial sebagai reseller dan/dari ISP yang komersial.

c. Persaingan bisnis normal diantara pengusaha legal komersial.

d.Persaingan bisnis yang tidak etis, dengan menghambat pesaing masuk dengan segala cara baik teknis (over power) maupun non-teknis, misalnya ‘titipan’ sweeping.

e. Memanfaatkan ketidak-mengertian pengguna/endusers untuk memakai sistem yang tidak etis dan/atau melanggar regulasi yang berlaku.

f. Efek samping dari otonomi daerah, dan/atau kekurang-pahaman pejabat di daerah tentang masalah di sekitar pemanfaatan frekuensi 2,4 Ghz ini.

g. Tidak efektifnya fungsi kontrol dari BALMON, baik karena terbatasnya tenaga dan peralatan maupun oleh karena terjadinya unavoidable conflict of interest (hubungan personal, bisnis, kekuasaan, pengaruh dll).

h. Atau memang sederhana saja, karena memang belum mengetahui maksud dari regulasi yang mengatur batasan teknis di pita frekuensi 2400 – 2483.5 MHz ini.

Analisa Faktor Faktor

Faktor non teknis ternyata jauh lebih besar daripada faktor teknis. Dan dari sekian banyak faktor non teknis tersebut ternyata persaingan sumber ekonomi menempati urutan teratas. Diikuti dengan lemahnya kontrol regulator dan kurangnya sosialisasi KEPMEN 02/2005 dan terakhir adalah ketidak-mengertian dan pengabaian (ignorancy).

Prinsip-Prinsip Pemecahan Masalah

1. Penegakan hukum yang berlaku.
2. Mengurangi akibat buruk dari langkah penegakan hukum ini, karena :

a. Sweeping akan mengakibatkan terhentinya operasi dan bisnis hampir semua pengguna frekuensi 2.4 Ghz di Indonesia dengan segala efek multiplier-nya.
b. Banyak instansi pemerintah dan BUMN yang bisa terhenti pelayanan publiknya, akibat kesalah-kaprahan selama ini.

3. Memberdayakan swa-regulasi, koordinasi dan kode etik dari sesama pengguna di suatu daerah tertentu.
4. Harus merupakan usaha atau program yang terus menerus dan berjangka panjang.

Prinsip Implementasi

1. Merupakan suatu program bersama antara regulator dan komunitas pengguna.
2. Untuk jangka waktu tertentu lebih menekankan prinsip edukasi. Tidak langsung dijatuhkan penalti kepada pelanggar ketentuan KM02/2005 tapi berupa satu kali peringatan keras yang kalau dilanggar sekali lagi, akan dijatuhkan penalti.
3. Adanya workshop secara berkala tentang pengetahuan teknik dan regulasi bagi pengguna frekuensi 2.4 Ghz ini.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>