Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Workshop WiMAX

Posted by pataka on April 25th, 2006

Postel menggelar workshop mengenai WiMAX. Yang datang melulu kalangan bisnis, tentu saja semua cuma berbicara soal manfaat buat diri mereka sendiri. Saling menggeser memperebutkan frekuensi yang dianggap paling tepat untuk implemen WiMAX. Tentu saja menurut sudut pandang kepentingan masing2. Menyedihkan.

Pada satu sisi produsen WiMAX sudah siap dengan produk yang disertifikasi oleh WiMAX Forum, sebagian besar di band 3,5 Ghz. Kecuali di Amerika yang bekerja di 5.7 dan 5.8 Ghz (di sana frekuensi bebas lisensi, UNII band). Di sisi lain para operator VSAT nampak kesal, karena di wilayah khatulistiwa ini, satu2nya band plan terbaik untuk komunikasi satelit juga bekerja di C band (3,4 – 4,2 Ghz). Jadi tabrakan dong!

Sementara positioning bisnis model untuk WiMAX sendiri masih belum jelas juga. Apakah akan diarahkan ke layanan BWA (Broadband Wireless Access) sebagai backhaul ataukah untuk distribusi? Karena WiMAX sendiri di desain bisa melayani dua model bisnis tersebut. Bahkan selain memiliki portability juga bisa mobility. Nah, kalau sampai model bisnisnya diperlakukan untuk mobility, maka pesaing terdekatnya adalah 3G. Sementara band plan 3G kemarin dilelang dengan harga tinggi. Masa WiMAX juga diperlakukan sama? Kalau iya, pemain BWA akan tersingkir oleh pemain seluler yang bisnisnya udah segede gajah bengkak.

Kalau itu terjadi, maka yang rugi sebenarnya justru adalah masyarakat. Terutama pengguna Internet. Karena sudah sejak lama teknologi WiMAX diposisikan sebagai subsitusi dan peningkatan kualitas akses bagi WiFi. WiFi sendiri di Indonesia jadi media utama yang digunakan oleh ISP untuk distribusi ke pelanggannya. Infrastruktur ini bahkan mendominasi kebutuhan akses karena media lainnya tidak tersedia. Kabel POTS berkualitas bagus untuk layanan DSL susah didapatkan dan konflik kepentingan dengan Telkom, operator infrastruktur yang juga jualan retail. Itupun kalo ada terbatas dan mahal.

Sekarang ini WiFi sudah mulai jenuh, terutama di kota2 besar yang pertumbuhannya sangat tinggi. Walhasil, kalo WiMAX jadi diperlakukan seperti 3G, maka infrastruktur ini akan sama saja mahalnya dengan yang ada sekarang. Siapa yang akan beli? Belum lagi kepentingan bisnis lain seperti BWA yang sekarang banyak menggunakan teknologi generik 802.11a yang punya kemampuan setingkat di bawah WiMAX baik untuk backhaul maupun distribusi. Masih ada lagi yang tertinggal, yaitu aktivitas publik penggiat Internet juga menggunakan 802.11a di band plan 5,2 dan 5,7 – 5,9 Ghz. Mereka ini non komersil seperti jamannya WiFi dulu. Misalnya pendidikan, pemerintahan, kesehatan bahkan kepolisian dan militer. Siapa peduli?

Karena itulah, penggiat Internet seperti Onno W. Purbo tetap bersikeras akan mengajak kembali pengguna Internet untuk protes pembebasan 5,7 – 5,9 Ghz untuk akses publik dengan teknologi 802.11a dan WiMAX. Artinya, bisnis model WiMAX di Indonesia akan didorong sebagai akses publik sepenuhnya. Bukan hanya dimiliki segelintir pelaku yang mendasarkan diri pada selembar Surat Ijin. Masyarakat luas, termasuk yang non komersial sama berhaknya terhadap resource terbatas ini dibanding dengan para pelaku komersial. Menang siapa kira2 hayo?

Tapi, sudahlah. Ngapain pusing soal ini. Toh, Postel juga belum tentu mendengar suara bawah.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>