Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Pasukan Capung

Posted by pataka on December 1st, 2005

Apakah anda pernah mendengar tentang pasukan capung? Ini adalah istilah bagi pengendara motor di Jakarta. Disebut capung karena mereka selalu bergerombol di sepanjang jalan yang macet, di setiap traffic light bahkan juga di lorong parkir. Intinya mereka ini berjubel, menyesaki jalan, semrawut saking banyaknya. Pasukan capung ini terkenal dengan kepiawaiannya dalam menerobos aneka rambu lalu lintas, menyerobot celah sempit di tengah kemacetan, membuka jalur alternatif seperti trotoar, bahu jalan bahkan melawan arus. Demi untuk lolos dari himpitan kemacetan dan lalu lintas yang sudah sangat tidak tertib. Bahkan, pasukan capung sering menjadi pioneer bagi para pelaku ‘follow the sinners’ (istilah untuk para pelaku pelanggaran yang mengikuti pelaku sebelumnya).

Lalu, apa sih sebenarnya yang menyebabkan kesemrawutan semacam ini?

Yang pertama, tentu saja adalah karena mental tidak tertib yang mendarah daging, bukan hanya dikalangan pasukan capung namun juga nampaknya semua pengendara kendaraan bermotor di Republik ini khususnya di Jakarta. Semua pengendara selalu punya alasan pembenaran atas segala hal aneh dan tidak beretika yang mereka lakukan dan parahnya tidak ada yang merasa bahwa itu adalah suatu kesalahan. Semua memiliki watak yang buruk, egois dan arogan, tidak mau disalahkan. Saya tidak tahu dari mana asalnya perilaku seperti ini, karena akar budaya kita yang menganut filosofi ketimuran selalu menekankan budi pekerti, sopan santun, etika dan mendahulukan kepentingan orang lain.

Yang kedua, saya melihat bahwa kekacauan ini disebabkan oleh rasa kecemburuan massal yang sangat besar akibat diskriminasi luar biasa yang sistematis dan struktural terhadap pengendara motor. Mulai dari razia rutin yang hanya dilakukan pada para pengendara motor (sementara mereka yang menggunakan mobil mewah dan angkot yang ngetem seenaknya dibiarkan), berbagai rambu larangan bagi motor yang berlaku hampir di setiap sudut jalan seolah pengendara motor tidak punya hak yang sama atas jalan (meskipun sama-sama membayar pajak), tidak ada jalur yang cukup nyaman bagi pengendara motor karena lajur kiri sudah habis diborong oleh angkot ngetem dan PKL serta mobil pribadi yang parkir di badan jalan. Belum lagi kondisi lahan parkir motor yang berjubel, tumpang tindih, sangat sempit, pelayanan seenaknya, tidak aman dan seringkali ditempatkan di lokasi yang jauh atau basement paling bawah yang sirkulasi udaranya buruk, sumpek dan tidak manusiawi perlakuannya.

Pendek kata, para pengendara motor hampir tidak pernah diperlakukan dengan layak, wajar, apalagi terhormat oleh siapapun. Mulai dari satpam dan petugas parkir hingga aparat kepolisian sendiri. Padahal anehnya mereka sendiri juga pengendara motor. Lucu sekali ya, bagaimana diskriminasi yang struktural ini memutarbalikkan logika dan membuat semua yang terlibat di dalamnya menjadi tidak berdaya melawan.

Padahal, angka-angka statistik menunjukkan betapa peran pasukan capung ini sangat besar di dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena mereka ini adalah representasi pekerja kelas menengah kebawah perkotaan terutama di Jakarta yang menjadi penyangga utama perekonomian dan aktivitas low end lainnya yang memang jarang menjadi perhatian para pejabat. Kalau mereka tidak ada, segala hal di Ibu Kota bisa lumpuh total. Mulai dari kurir surat, operator hingga setingkat manajer adalah anggota pasukan capung. Kalau motor dilarang masuk wilayah segi tiga emas (BSD, Sudirman, Thamrin, Kuningan) Jakarta, maka dipastikan situasi akan jadi chaos. Minimal, pasokan makanan dan minuman di wilayah itu yang mengandalkan aneka gerobak motor akan tersendat dan tidak ada jasa ojek yang amat dirindukan oleh pekerja berdasi di saat situasi macet dan tidak ada angkot yang kosong (termasuk taxi).

Dalam banyak hal, pasukan capung bisa jadi indikasi situasi ekonomi secara sederhana. Dari tahun ke tahun, pertumbuhan motor di Jabodetabek amat luar biasa, naik secara eksponensial. Namun ini juga dibarengi sisi gelap berupa banyaknya motor sitaan yang dilaporkan mencapai 10% dari populasi motor baru. Ternyata, sebagian besar (60%) motor yang memenuhi jalanan itu dibeli secara kredit. 20% adalah motor bekas dan 20% saja yang dibeli secara tunai. Artinya, sebenarnya daya beli masyarakat masih rendah dan fakta bahwa 1 dari 10 motor kreditan ternyata harus disita, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi kita secara keseluruhan tidak stabil. Meskipun para pemilik motor itu umumnya berpenghasilan di atas UMR (syarat pengajuan kredit), nyatanya banyak yang tidak mampu menyisihkan sekitar 500 ribu rupiah per bulan untuk cicilan.

Tetapi, masyarakat menyadari dan meyakini bahwa memiliki motor berarti potensi untuk meningkatkan produktifitas dan mobilitas. Dibandingkan jenis kendaraan bermotor lainnya dan angkutan umum, motor dianggap lebih ekonomis dan praktis serta memiliki nilai investasi. Apalagi kondisi jalanan di Jakarta yang semakin gila, macet, semrawut, rusak, banjir, tidak aman dan rawan kejahatan, maka motor jadi pilihan transportasi yang amat sangat masuk akal bagi sebagian besar pekerja kelas menengah kebawah, termasuk saya sendiri. Kurang lebih setiap hari saya menempuh 80 km perjalanan untuk bekerja dan antar jemput isteri, dengan ongkos kurang dari 10 ribu rupiah (sudah termasuk parkir). Bandingkan bila harus ditempuh dengan alat transportasi lain seperti angkutan umum, busway yang rutenya tidak pas atau apalagi menggunakan taxi. Bisa kere! Terutama kalau naik aneka bus umum yang kondisinya sangat tidak layak jalan serta dipenuhi kriminal (daripada kehilangan notebook seperti saya).

Perhatikan pula bahwa setiap lebaran, motor juga semakin menjadi pilihan tansportasi para pemudik. Tahun 2005 ini Polda Metro Jaya mengumumkan angka 2 juta pemudik yang menggunakan motor dan sejumlah pengamat meramalkan angka 3 juta pada lebaran tahun 2006 nanti. Seiring dengan itu angka kecelakaan yang dialami pengendara motor juga melonjak drastis. Perilaku tidak tertib, tentu saja menjadi penyebab utama. Tetapi ada juga sebab lain yang memprihatinkan yaitu kurangnya infrastruktur jalan yang memadai untuk ‘melayani’ pasukan capung. Antara lain rambu lalu lintas dan jalan raya di luar kota, kebanyakan tidak didesain untuk motor. Kalau di perkotaan mungkin ada sebagian jalur lambat yang terpisah sehingga motor aman dari desakan kendaraan lain yang lebih besar. Lha kalau di luar kota? Motor harus berhadapan dan berebut badan jalan dengan tronton, truk dan bus antar kota yang sudah kita maklumi kekurangajaran dan kenekatannya. Motor, pada dasarnya sebenarnya bukanlah jenis kendaraan atau alat transportasi jarak jauh. Sangat berbahaya, karena tidak mungkin memiliki sistem perlindungan yang memadai. Belum lagi masalah kelelahan dan kondisi cuaca yang berpengaruh langsung terhadap fisik pengendara. Beda dengan pengendara kendaraan roda empat misalnya.

Maka sudah saatnya, seharusnya (lagi-lagi) Pemerintah memiliki kebijakan khusus tentang pengendara motor. Hentikanlah diskriminasi dan layanilah pengendara motor secara wajar, layak, beretika dan manusiawi. Berikan jalur-jalur khusus untuk pasukan capung, jangan hanya dilarang masuk di mana-mana. Siapkanlah infrastruktur jalan dan rambu-rambu yang memadai untuk pengendara motor. Atur lahan parkir agar lebih beradab serta memberikan hak yang seharusnya karena pasukan capung juga membayar pajak serta aneka jasa termasuk parkir. Terakhir, perbaiki keamanan dan kelayakan transportasi umum (massal) supaya manusiawi dan nyaman. Perbanyak jumlahnya terutama di saat mudik, sehingga makin banyak para pemudik memilih alat transportasi yang lebih memadai untuk ritual tahunan ini. Sehingga tak ada lagi nyawa melayang sia-sia.

One Response to “Pasukan Capung”

  1. Reformasi Polisi » Tragedi Pemudik Motor WordPress 3.0.1
    Says on WordPress 3.0.1

    […] Tragedi Pemudik Motor 28 October 2010 02:17 WIB | KAMU Masih ingat kisah tentang Pasukan Capung? […]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>