Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Peran Teknologi Informasi Di Daerah Bencana

Posted by pataka on June 12th, 2005

Pasca bencana di Aceh dan Nias, dibutuhkan peran Teknologi Informasi (TI) dalam bentuk infrastruktur dan aplikasi. Karena bencana, infrastruktur eksisting hancur, sehingga arus informasi terhambat. Informasi dibutuhkan dalam proses koordinasi, pengawasan dan partisipasi aktifitas penanggulangan bencana oleh berbagai pihak.

Bencana di Aceh dan Nias adalah peristiwa luar biasa sehingga mengundang perhatian dunia. Bantuan dan inisiatif berbagai pihak mengalir dengan intensitas dan keragaman yang sangat tinggi. Ini adalah berkah bagi pemulihan bencana, namun di sisi lain juga mengundang kompleksitas, karena semua inisiatif mempunyai misi berbeda. Sehingga mungkin terjadi mislead dan overlapping. Diperlukan manajemen data dan pertukaran informasi yang memadai untuk menjalin saling pengertian antar inisiatif.

TI memiliki peranan penting dalam proses ini untuk menjamin koordinasi, transparansi, pengawasan, akselerasi program dan kegiatan serta membuka kesempatan partisipasi bagi masyarakat luas. Bagi Pemerintah, TI merupakan sarana dan media alternatif untuk menunjukkan akuntabilitasnya di mata dunia, mengingat demikian besarnya antusias masyarakat Internasional terhadap peristiwa ini.

Kenyataannya, inisiatif TI di lapangan belum terlalu besar dan kurang mendapat apresiasi serta perhatian. Inisiatif yang menonjol adalah dari para operator yang berkepentingan memulihkan infrastruktur dan layanannya yang hancur serta untuk menyelamatkan aset dan investasinya secara terbatas. Belum ada upaya ekstensif dalam skala masif, misalnya untuk menjadikan Aceh dan Nias sebagai momentum pengembangan TI yang lebih ideal dan menjadi percontohan bagi wilayah lain. Alasannya adalah lemahnya potensi pasar.

Inisiatif berani justru muncul dari Yayasan AirPutih. Kelompok nirlaba ini menghimpun relawan dari kalangan profesional TI untuk menyelenggarakan infrastruktur dan layanan Internet dengan teknologi VSAT, WiFi, Pre Wimax dan saat ini sedang mengupayakan jaringan Fiber Optic dari Medan hingga ke Meulaboh. Inisiatif ini berbasis bantuan suka rela dari sejumlah komunitas TI, baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri, sampai dengan konsorsium perusahaan TI multinasional.

Yayasan AirPutih juga menyelenggarakan fasilitas Media Center di Banda Aceh, Calang dan Nias yang dimanfaatkan optimal oleh komunitas pers, LSM lokal dan asing, badan-badan Pemerintah dan dunia pendidikan untuk mendistribusikan informasi dari dan ke wilayah bencana. Fasilitas Internet ini bebas biaya karena berasal dari donasi, sehingga sangat membantu koordinasi dan komunikasi di daerah bencana yang terisolir.

Melalui web sitenya (www.acehmediacenter.or.id), mereka juga berupaya membangun data repository yang terbuka dan bisa dimanfaatkan oleh siapa pun yang membutuhkan. Data-data ini secara berkelanjutan dipasok oleh LSM yang melakukan aktifitas di Aceh dan Nias. Web site ini juga menyediakan berbagai fasilitas dan aplikasi lain yang sangat bermanfaat seperti database pencarian orang hilang serta forum untuk bertukar informasi antar pengunjung web site dan SMS gateway sebagai sarana partisipasi masyarakat.

Kelompok ini juga melakukan kerjasama dengan LSM lain dan Pemerintah melalui Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) maupun dengan Tim ICT for Aceh yang dibentuk oleh Departemen Komunikasi dan Informatika. Tujuannya untuk melakukan proses alih teknologi dan community development pada masyarakat setempat. Sekaligus untuk menjawab pesimisme dikalangan komunitas TI Nasional sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Yayasan AirPutih telah menjadi sebuah model implementasi TI komprehensif secara mandiri untuk daerah bencana dan bisa dijadikan sebagai acuan.

Sebagian wacana beranggapan inisiatif dan aplikasi TI di daerah bencana adalah bukan prioritas dan tidak pada tempatnya. Mengingat rakyat lebih membutuhkan pemenuhan kebutuhan pokok, kesehatan, pendidikan dan lapangan pekerjaan. Dikhawatirkan oleh sejumlah pengamat, implementasi TI saat ini akan sia-sia, karena tidak ada yang mampu mengelola dan memanfaatkannya pasca proses rekonstruksi dan rehabilitasi berakhir.

Wacana tersebut kurang memperhatikan fakta bahwa inisiatif TI seperti yang dilakukan Yayasan AirPutih adalah wujud solidaritas luar biasa dari komunitas TI lokal dan Internasional. Perangkat teknologi yang diimplementasikan sepenuhnya donasi tidak mengikat, bukan hutang, bukan pula investasi bisnis. Bentuknya adalah turn key project yang tidak membebani Pemerintah atau rakyat daerah bencana sama sekali.

Donasi itu hanya diberikan apabila diimplementasikan di Aceh dan Nias saja, bukan di daerah lain. Sehingga apabila kita tidak menerimanya, maka donasi akan dialihkan ke negara lain. Maka kita harus kreatif menjadikannya sebagai momentum untuk mulai berupaya mewujudkan sebuah implementasi TI masif yang ideal.

Pada tahap awal, infrastruktur ini fokusnya adalah untuk memfasilitasi aktifitas bantuan dan proses rekonstruksi dan rehabilitasi oleh berbagai pihak. Sehingga pelaksana serta komunitas yang memanfaatkan bukan orang lokal. Proses implementasi membutuhkan profesionalitas agar dapat terwujud. Namun demikian partisipasi lokal tetap dilibatkan secara terbatas, antara lain dari perguruan tinggi dan Industri TI lokal untuk mempercepat proses alih teknologi dan alih kelola.

Pada saat potensi lokal telah bangkit, infrasrtuktur ini akan diserahkan kepada inisitif setempat untuk memfasilitasi aktifitas masyarakat Aceh dan Nias di berbagai bidang, misalnya ekonomi/bisnis dan pendidikan. Dalam perencanaan saat ini, diperkirakan alih kelola dapat dilakukan pada akhir tahun 2006. Selama dalam masa itu, infrastruktur ini akan mendapat subsidi dari konsorsium Industri Internasional sehingga bebas biaya dan karenanya tidak untuk dikomersialkan.

Paralel dengan implementasi infrastruktur, bersama dengan Pemerintah dan LSM lain, akan dilakukan upaya community development untuk mengkonsolidasi potensi lokal. Proses ini diharapkan mampu menghasilkan angkatan kerja dan juga demand bagi Industri TI yang difasilitasi oleh infrastruktur yang saat ini sedang dibangun.

Proses community development juga dimaksudkan untuk membina dan melibatkan Industri TI lokal sebagai salah satu stake holders yang nantinya melanjutkan pengelolaan bantuan ini. Sehingga kehadiran infrastruktur ini tidak akan menjadi distorsi bagi pemain lokal.

Pada akhirnya, implementasi infrastruktur TI akan memberikan manfaat optimal apabila tersedia aplikasi yang mampu melayani dan memfasilitasi masyarakat mengembangkan potensinya. Saat ini sejumlah aplikasi sedang dibangun dan dikembangkan oleh berbagai pihak, antara lain untuk pendidikan, bisnis, pariwisata dan sistem peringatan dini bencana alam serta e-government. Departemen Komunikasi dan Informatika terus mendukung dan memfasilitasi berbagai inisiatif ini agar secepatnya memberikan kontribusi bagi rakyat Aceh dan Nias serta bangsa Indonesia pada umumnya.

Jakarta, 12 Juni 2005

Popularity: 10% [?]

2 Responses to “Peran Teknologi Informasi Di Daerah Bencana”

  1. global warming and earth science Internet Explorer 6.0 Windows XP
    Says on Internet Explorer 6.0 Windows XP

    global warming and earth science

    great blog, keep it comming.

  2. Pasa Firaya, ST Opera 9.63 Windows XP
    Says on Opera 9.63 Windows XP

    Salam kenal, berkunjung baca infonya, sukses TI Indonesia.
    I Like Relationship.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

Enter characters from the image: