Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Selamat HUT ke 91 Kota Malang yang “Malang”

Posted by pataka on April 1st, 2005

Hari ini, Kota Malang, berulang tahun ke 91.

Ini adalah kota dimana aku lahir dan bangga sebagai seorang AREMA (Arek Malang) dan Aremania (supporter pendukung PS AREMA). Kota ini dengan segala kekayaan budayanya yang membanggakan adalah lingkungan yang paling menentukan pembentukan karakterku selama ini.

Namun, tahun2 terakhir ini, Malang sesungguhnya sedang menangis!

Malang kini memang semakin malang nasibnya. Kota ini terus kehilangan warisan2 budaya dan ciri khas. Sejumlah lahan penting, misalnya Ijen yang identik dengan bangunan2 kuno peninggalan Kolonial, kini semakin berubah menjadi rumah2 berarsitektur modern, posmo dsb. Karena urusan rumah mewah, ruko dan properti lain maka Malang kehilangan sebagian besar daerah resapan serta lahan hijau paru2 kota.

Jangan heran, sekarang Malang adalah kota yang macet parah dan banjir dimana2. Sebut saja lahan2 historis seperti Taman Indrokilo, SNAKMA, APP yang rindang, sejuk sekarang berubah drastis jadi belantara beton yang jumawa. Jadi perumahan mewah, mal dan semata mempertontonkan hedonisme yang tanpa peduli pada kondisi lingkungannya. Apakah dulu pernah terbayang di daerah Bareng, Tanjung, Bukit Barisan, Raya Lansep dan Raya Dieng, Galunggung, Bendungan Sutami (Sumbersari), Veteran bahkan Ijen mengalami BANJIR? Sekarang itu selalu terjadi dan Pemerintah Daerah dengan santainya mengatakan bahwa penyebabnya hanyalah masalah gorong2!

Siapapun tahu, bahwa Belanda di jaman Kolonial paham betul topografi Malang dan iklimnya, mereka sudah bisa memperhitungkan bagaimana cara terbaik menjaga environment kota. Sayangnya, itu diabaikan demi segala sesuatu yang berbau KKN dan meminjam istilah demi kemajuan kota, tanpa mempedulikan lingkungan itu sendiri.

Demikian juga kegiatan2 kultural seperti pertunjukan seni budaya, teater, tari tradisional, seni rupa, musik seperti hilang dari peradaban kota. Malang dulu adalah barometer musik rock, jazz dan POP kreatif. Sekarang? Disetiap sudut yang mendominasi kini adalah kafe2 dan pub yang menyuarakan musik2 dugem. Tidak ada lagi pentas musik jalanan, festival rock, tour jazz kampus atau pentas apresiasi musik2 tradisional. Demikian juga aktifitas teater, seni tari modern maupun tradisional, sampai pameran2 senirupa, tidak pernah lagi muncul.

Pangkal masalahnya sederhana, mereka kehilangan tempat bergumul. Dulu ada Taman Indrokilo, yang jadi pusat aktifitas olahraga, kreatifitas remaja dan budaya serta seni, seperti Gelanggang Bulungan di Jakarta. Tapi sejak beberapa tahun lalu, tempat itu berubah menjadi perumahan mewah. Sementara tidak ada seorangpun yang punya pikiran untuk memberikan fasilitas pengganti untuk mewadahi aktifitas seni dan budaya semacam ini.

Nasib yang sama dialami oleh GOR Pulosari, sekarang berubah jadi Supermarket. Sementara tempat2 yang ada tersisa, tidak pernah dirawat, disantuni, dipublikasikan. Sebut saja Gedung KNPI, Gedung DKM, Pasar Seni Majapahit. Semuanya dilindas oleh budaya2 POP di Mal, Cafe, Resto, Pub, Hotel dan kehidupan hingar bingar. Tidak ada upaya Pemerintah Daerah untuk membendung semua ini dan mendorong bangkitnya seni budaya lokal agar tampil sebagai identitas dan ciri khas yang kuat bagi Kota Malang.

Kalau hanya Kota dugem, Surabaya atau Jakarta sudah jauh lebih heboh 😉

Malang sekarang tidak lebih dari lahan bancakan bagi mafia bisnis dan pejabat yang ber-KKN dan merombak tata nilai yang dibangun susah payah oleh para pelaku sejarah Kota Malang. Mereka itu mengkhianati cita2 mulia para pendahulu dan masyarakat AREMA sendiri. Sebut saja pembangunan MATOS (Malang Town Square) yang sangat bermasalah dari semua sudut dimensi tata nilai namun tetap saja dilanjutkan. Semua atas nama investasi dan “kemajuan kota” (atau malah justru kerusakan jati diri kota?).

MATOS, dibangun tepat di jantung kawasan pendidikan Kota Malang. Persis di depan SMA-ku tercinta, SMA Negeri 8 Malang (Smarihasta). Di depan gerbang belakang Universitas Malang dan bertetangga persis dengan Universitas Brawijaya Malang. Sementara di sekitarnya belasan lembaga pendidikan mulai Play Group, TK, SD, SMP, SMA dan pendidikan luar sekolah bertebaran. Salah kaprah yang mengerikan.

Lahan MATOS juga menggunakan bekas APP, salah satu paru2 kota terpenting yang menyangga kawasan Dinoyo.

Coba lihat kawasan Barat, mulai Bukit dan Lembah Dieng yang asri dan jadi sumber berbagai komodoitas buah dan pertanian, sekarang total menjadi kawasan perumahan mewah. Skip, yang notabene lapangan militer, kini juga beralih fungsi jadi pemuas nafsu kemewahan. Ke utara, ada kawasan Tidar yang juga terus berkembang tak terkendali dan menghabiskan semua fragmen hijau Kota Malang menjadi belantara beton yang angkuh.

Di kawasan Timur, mulai dari Araya, PBI sampai Sawojajar dan Buring, semua kehilangan fragmen hijau. Jalanan pun macet dari semua sudut kota, tidak terkendali lagi. Tidak ada lagi yang peduli. Semua tak bersisa.

Siapakah yang berpikir, bahwa semua itu perlu pengganti untuk menyeimbangkan kembali lingkungan Kota Malang yang katanya kita cintai ini? Tidak ada! Apakah anggota Dewan Yang Terhormat? Prek, mereka hanya duduk2 dan menghabiskan uang saja. Demikian juga, siapakah yang berpikir memperkaya kembali khazanah serta jiwa AREMA dengan seni dan budaya? Tidak ada! Mereka hanya peduli satu hal: DUIT. Maka, meskipun Malang sudah lama memiliki citra kota pendidikan, namun kini, kuliah2 tidak lagi berlangsung di kampus, tapi di meja2 pub, bar, diskotik dan buku2 berubah menjadi sajian miras, bong, spet dkk. Sementara mereka hanya kenal satu saja praktikum: gang bang! Ah …

Selamat Ulang Tahun ke 91 Kota Malang. Salam haru biru!

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>