Pataka WebLOG

Pataka Official Site

1 April Bukan Penanda Hari Jadi Kota Malang

Posted by pataka on April 1st, 2005

Oleh: Dr M. Dwi Cahyono
*Dosen Sejarah FS Universitas Negeri Malang

Pada 1 April 2005 kemarin, masyarakat dan Pemkot Malang tengah memperingati dan merayakan hari jadi ke-91 Kota Malang. Sebagai suatu penanggalan dan momentum historis, 1 April 1914 telah berpuluh-puluh tahun berselang dijadikan sebagai penanda hari jadi Kota Malang. Penanda waktu itu seakan diterima sebagai suatu kebenaran. Padahal, sebagaimana penanda hari jadi kota/kabupaten lainnya, penanda hari jadi bukan tak mungkin untuk ditinjau ulang akurasinya.

Peninjauan ulang terhadap penanda hari jadi yang telah ada pernah dilakukan oleh sejumlah kota/kabupaten, seperti Ngawi, Tulungagung, Jember, Banyumas, Pasuruan (meski hingga kini belum ada kesepakatan), dan sebagainya. Ada pula daerah yang melacak hari jadinya karena sebelumnya hari jadi suatu kota dan kabupaten menggunakan penanggalan yang sama, seperti dilakukan oleh Kota Kediri, atau karena terbentuknya kota baru seperti Kota Batu yang disemangati oleh otonomi daerah.

Peninjauan ulang penanda hari jadi tersebut dilakukan karena beberapa hal. Pertama, jika ditemukan sumber data (informasi) baru yang lebih akurat untuk dijadikan sebagia penanda hari jadi. Kedua, jika proses pencarian dan penemuannya tidak ditangani oleh pihak yang berkompeten, kurang metodologis dan tidak demokratis – dalam arti tidak melibatkan masyarakat dalam memilih sejumlah alternatif penanggalan sebagai penanda waktu hari jadi. Ketiga, jika kriteria untuk penentuan hari jadi hari jadi telah mengalami perubahan, baik semangat ataupun kepentingannya. Dengan perkataan lain, penanda hari jadi bukanlah “harga mati”, bersifat tentatif, dan sebagai suatu hasil riset keilmuan bukan tak dapat dibatalkan (digugurkan). Jika demikian, berarti tak tertutup kemungkinan untuk meninjau ulang akurasi atau ketepatan 1 April 1914 sebagai penanda hari jadi Kota Malang.

Kita musti membedakan antara hari jadi Kota Malang dan hari jadi pemerintahan Kota Praja/Kota (Gemeente) Malang. Tanggal 1 April 1914 bukan penanda hari jadi Kota Malang, melainkan hari jadi Gemeente Malang. Jadi, penanggalan dan peristiwa yang terkandung di dalamnya hanya berkenaan dengan sejarah tata pemerintahan. Itu pun hanya dalam lingkup masa pemerintahan Hindia-Belanda. Apabila 1 April 1914 dimaknai sebagai hari jadi Kota Malang sebagaimana sekarang, maka pertanyaanya, “apakah sebelum tahun 1914 tersebut belum terdapat masyarakat perkotaan, budaya kota dan prasarana maupun sarana kota yang terdapat di kawasan yang kini dinamakan Kota Malang?

Sebenarnya, bukan hanya Malang Barat yang pernah menjadi pusat kota pada masa lalu, namun pada masa berikutnya Malang Utara dan Timur tampil pula sebagai pusat kota. Pada paro pertama abad X, kembali Malang dipilih menjadi Ibukota Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Pu Sindok (Içana), setelah pusat pemerintahan Mataram dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Menurut prasasti Turyyan (929 Masehi), Ibukota Kerajaan Mataram adalah Tamwlang.

Boleh jadi, toponimi Tamwlang tersebut kini berubah menjadi Tembalangan yang terletak di utara Sungai Brantas. Jika benar demikian berarti wilayalh Kota Malang pernah menjadi Ibukota Kerajaan Mataram meski dalam waktu relatif singkat, oleh karena itu dapat dipahami jika setidak-tidaknya ada delapan buah prasasti Sindok yang tersebar di Malang Raya.

Pada awal abad XIII daerah pertemuan tiga sungai, yang sekarang dikenal dengan nama Kutobedah, pernah menjadi Ibukota pertama

Kerajaan Singhasari sebelum kemudian Kretanegara memindahkanya ke kawasan Singosari sekarang. Tinggalan arkeologis yang kaya di eks kompleks bong China Kutobedah yang kini telah dijadikan kompleks perumahan menjadi petunjuk bahwa daerah ini pernah menjadi pusat kebudayaan. Nama lama dari Kutobedah sebagaimana tertera pada peta tahun 1800 akhir adalah Kutanegara, serupa dengan nama Ibukota Kerajaan Singhasari pada masa Pemerintahan Arok menurut Kitab Pararaton.

Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, sebagaimana disebut dalam Kakawin Nagarakretagama (VII.4), kembali Malang dipilih sebagai pusat pemerintaahan neagara bagian (vasal) Majapahit yang diperintah oleh putrinya bernama Kusumawardhani (Bhre Kabalan). Toponimi “Kabalan” masih tersimpan dalam nama dukuh di Desa Cemorokandang, yakni Dukuh Kabalon. Perihal Kabalon diberitakan juga dalam Pararaton sebagai tempat perajin emas yang tersohor waktu itu. Boleh jadi, daerah ini merupakan salah satu pathirthan yang dikunjungi Hayam Wuruk manakala singgah ke Singhasari, yang dalam Nagarakretagama disebut sebagai Telaga Bureng (Bureng kemungkinan menjadi Buring sekarang), tempat yang indah dan dikelilingi oleh rumah-rumah bagus pada waktu itu.

Gambaran di atas memberi kejelasan bahwa dalam kurun waktu enam abad (abad VIII-XIV), telah empat kali Malang menjadi pusat pemerintahan atau Ibukota kerajaan dan vasal. Dengan demikian, cukup alasan untuk menyatakan bahwa pada masa Hindu-Budha, berabad-abad sebelum tahun 1914, telah terdapat adanya masyarakat perkotaan, kebudayaan kota, dan fasilitas kota di Malang untuk ukuran jamanya. Yang berarti, mula adanya kota Malang mustinya terjadi pada masa Hindu-Budha, bukan pada akhir masa penjajahan Belanda.

Selain itu, jika Surat Keputusan (Staatblat) Gubjen Hindia-Belanda Nomer 297 tahun 1914 tentang “Pembentukan Gemeente Malang ” yang dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan harijadi Kota Malang, maka terkesan bahwa keberadaan Kota Malang adalah anugrah semata dari Pemerintah Kolonial, bukan atas dasar prestasi luhur dari masyarakat Malang sendiri. Staatblat tersebut sebenarnya dikeluarkan dalam kerangka pelaksanaan keputusan desentralisasi sebagai pengejowantahan dari UU Desentralisasi (Decentralisatiewet) tahun 1903 guna mempermudah pelaksanaan tata pemerintahan kolonial. Jadi, latar peristiwanya terkait dengan kepentingan pemerintah kolonial. Oleh karena itu, beralasan jika dikatakan bahwa dasar acuan harijadi Kota Malang tanggal 1 April 1914 bersifat Neerlandocentris (Belanda sentries), bukan Nasional sentris. Kesan yang muncul adalah lahirnya Kota Malang “dibidani” oleh Pemerintah Hindia-Belanda, bukan karena prestasi luhur atau buah upaya dari masyarakat Malang sendiri.

Apabila sepakat bahwa tanggal 1 April 1914 tidak tepat untuk dijadikan sebagai penanda Harijadi Kota Malang karena antara lain alasan diatas, maka tidak bisa tidak perlu dilakukan penunjauan ulang terhadap penanda waktu itu (1 April 1914) untuk dicari penanda waktu lainnya yang momentum historis terkandung di dalamnya lebih tua dari waktu itu, menumbuhkan rasa bangga atas prestasi sendiri dan mencerminkan jatidiri Malang. Untuk kepetingan itu, banyak sumber data tertulis yang dapat didayagunakan, antara lain prasasti Ukirnegara (1198 Masehi), yang pertama kali memuat nama “Malang” sebagai nama kawasan di sebelah timur Gunung Kawi yang berada dibawah pemerintahan Rakai Kañuruhan. Hal lain yang menarik dari prasasti ini, didalamnya menyebut beberapa toponimi yang dapat dilokasikan di kawasan Kota Malang sekarang seperti nama Gasek, Paniwen dan Talun.

Atau bisa juga menggunakan prasasti-prasasti lain yang ditemukan di Malang atau di luar Malang yang berkenaan dengan peristiwa penting mengenai suatu daerah di Malang pada masa lalu.

Semoga tinjauan kritis ini dapat membuka kesadaran dan sikap bijak untuk mencari dan menemukan harijadi Kota Malang (bukan sekedar sejarah pemerintahan Gemeente Malang) yang lebih akurat. Oleh karena, jika kita tetap ngotot untuk menggunakan penanda Harijadi Kota Malang yang kurang tepat (1 April 1914) dan terus memperingatinya hingga bertahun-tahun ke depan, berarti sama halnya dengan mewariskan sejarah yang palsu mengenai mula sejarah Kota Malang. (*)

9 Responses to “1 April Bukan Penanda Hari Jadi Kota Malang”

  1. Bairro Internet Explorer 6.0 Windows XP
    Says on Internet Explorer 6.0 Windows XP

    Sekitar tahun 1966, pernah ada suatu oameran pembangunan di bangunan rusak di salah satu sudut alun-alun, yang sekarang jadi SARINAH. Waktu itu pameran dalam rangka ulang tahun kota Malang (entah tanggal berap saya lupa) tapi saya ingat benar bahwa ulang tahun itu adalah ulang tahun yang ke 600 sekian (mungkin 652, pokoknya lebih dari 650).
    Maka jadi aneh kalau ada ulang tahun ke 91 dan 92 . haaaa.
    Rasanya kita ini kok jadi bodo. Gak ngerti sejarah atau gak ngerti apa-apa.

  2. Bhre Pamuncak Mozilla Firefox 2.0.0.4 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 2.0.0.4 Windows XP

    Yang dimaksud oleh saudara Bairro itu kemungkinan besar adalah peringatan hari jadi Kabupaten Malang yang memang sudah mematok dirinya sudah berumur lebih 600-an taun itu…

    Maka sebagai tanggal hari jadi yang tidak bersinggungan dengan itu, dipilihlah tanggal pengukuhan Stadsgemeente Malang menjadi harijadi Kota Malang yang dengan sendirinya akan berbeda dengan hari jadi kabupatennya…

    Silakan baca juga Malang Studies yang memuat bahan bacaan berkenaan dengan topik ini….

  3. Dedi Opera 9.24 Windows XP
    Says on Opera 9.24 Windows XP

    :d:d:d

    Tapi sampai selama ini masy Malang kayaknya masih yakin juga bahwa 1 April tuh emang ultahnya Malang….:-w:-w tapi kayaknya emang membingungkan juga, sampe sekarang q juga belum tahu mana yg bener…setelah baca artikelnya sampeyan, waduh ku jadi tambah g ngerti ney..tapi y udahlah tak apa buat tambah pengetahuan…:):)

  4. samsul Internet Explorer 7.0 Windows XP
    Says on Internet Explorer 7.0 Windows XP

    selamat hari jadi kota malang… eh belum ya, masih satu bulan lagi

  5. Yab '03 Mozilla Firefox 2.0.0.11 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 2.0.0.11 Windows XP

    Pak dwi keren…

    my Dos favorite…..

  6. akhmad agung wicaksono Mozilla Firefox 9.0 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 9.0 Windows XP

    Memang benar. Jangan mewariskan sejarah palsu. Perhitungan hari jadi suatu kota tidak harus dari mulai dipimpin Walikota. Merayakan 1 april 1914 sebagai hari jadi kota Malang, bagi kami sama saja dengan menjilati sepatu para penjajah Belanda, dan mengencingi kepala para leluhur kita yang telah mendirikan kota Malang berabad-abad yang lampau, jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda. Sebenarnya berdirinya kota Malang bisa dihitung dari akhir kekuasaaan Raja Hayam Wuruk dari Majapahit, sebab pada zaman Hayam Wuruk itu, kota Malang bukanlah sebuah pedesaan. Bisa juga dihitung dari penaklukan Tentara Kerajaan Demak, sekitar tahun 1500-an Masehi.

  7. AKHMAD Mozilla Firefox 8.0.1 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 8.0.1 Windows XP

    Sampai kapaaaaan kita masih merayakan hari jadi Kota Malang yang perhitungannya hanyalah berdasarkan buatan / ciptaan Penjajah Belanda dan untuk kepentingan penjajah? INI SAMA SAJA DENGAN MENJILATI SEPATU PENJAJAH BELANDA DAN MENGINJAK-INJAK LELUHURNYA WONG MALANG yang sudah membangun kota Malang sejak (minimal) zaman kerajaan Demak.

  8. Nawawi Abbas Sukaryo Safari 8536.25 iOS 6.1.3
    Says on Safari 8536.25 iOS 6.1.3

    Penggantian hari jadi sebenernya bukan satu hal yang sulit, koq. Contohnya, Kabupaten Kendal di Jawa Tengah yang akhirnya mengganti hari jadinya yang tadinya tanggal 26 Agustus 1628 menjadi tanggal 28 Juli 1605 di tahun 2006.

  9. Nawawi Abbas Sukaryo Safari 8536.25 iOS 6.1.3
    Says on Safari 8536.25 iOS 6.1.3

    Kalo hanya merujuk pada pembentukan gemeente, Kota Semarang, Pekalongan, Tegal, dan Magelang di JaTeng juga didirikan sekitar masa penjajahan Belanda. tapi kota2 itu enggak menjadikan pendirian status gemeente sebagai hari jadinya, Jadi saya rasa Kota Malang harus meralat hari jadinya.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>