Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Komunikasi Radio Amatir di Aceh

Posted by pataka on February 9th, 2005

Untuk kepulauan, sebagai daerah yang terisolir, perangkat paling ideal adalah komunikasi radio yang bekerja di band2 amatir baik HF untuk jarak jauh maupun VHF dan UHF untuk jarak sedang/dekat. Tapi sayangnya masih sedikit orang yang peduli dengan manfaat perangkat radio semacam ini. Padahal tidak pernah ada Operasi SAR/kemanusiaan/penanggulangan bencana yang bisa bekerja efektif dan efisien tanpa peran serta komunikasi radio.

Sementara untuk komunikasi data, yang paling sesuai adalah VSAT TDMA DVB atau DVB RCS kapasitas kecil (64 kbps – 256 kbps) dan dish kecil. Cuma perangkat ini harganya tidak terlalu murah, sekitar < Rp. 100 juta per unit. Sementara biaya langganan bulanannya tergantung kapasitas, per bulan, sekitar Rp. 4 juta untuk kapasitas 64 kbps. Masih cukup wajar seperti biaya akses Internet di Jakarta. Sementara perangkat akses yang paling fleksibel adalah Notebook, karena hemat listrik dan mobilitasnya tinggi. Dilengkapi dengan sistem WIFI Hotspot atau bila memungkinkan distribusi semacam RT/RW Net akan bisa melayanir wilayah yang cukup luas. Tentu saja, semua ini membutuhkan biaya yang cukup besar untuk operasi yang sifatnya sosial kemanusiaan. Perlu dukungan donasi yang kuat. Apabila tidak bisa tersedia VSAT, maka, via radio sebenarnya bisa saja cukup membantu apabila bersedia secara manual mentransmisikan data di lapangan ke kantor pusat secara verbal. Beberapa kesulitan komunikasi, seperti misalnya mempresentasikan data tabel, ternyata bisa diatasi dengan mudah berdasarkan kode2 verbal tertentu yang disepakati sebelumnya. Banyak hal menarik dalam networking dan telecommunication survival yang saya temui selama operasi kemanusiaan di Aceh. Salah satunya adalah larangan beroperasinya repeater dan telekomunikasi radio bergerak. Alasannya adalah keamanan, karena memang Aceh adalah daerah operasi militer. Di Aceh, setiap anggota TNI atau Polri yang bertugas di lapangan, boleh saja hilang nyawa, namun tidak boleh kehilangan senjata dan radio! Jadi, fungsi, manfaat, kegunaan dan nilai strategis radio adalah sangat tinggi, setara dengan sejnjata bahkan lebih dari nilai nyawa seorang prajurit. Namun kenyataannya adalah sangat sulit memberikan pengertian kepada manajemen operatif kelompok2 relawan di Aceh untuk menyediakan atau membiasakan anggotanya memanfaatkan serta menggunakan teknologi radio komunikasi. Apalagi, di era komunikasi selular sekarang ini, orang terlanjur beranggapan bahwa menggunakan handphone sudah cukup memenuhi kebutuhan dan relatif tidak terlalu ribet (bentuknya kecil dan asesorisnya mudah didapatkan). Apalagi kenyataannya di Banda Aceh, transmisi GSM dan CDMA Fleksi dapat berfungsi lumayan. Selain itu, dengan injeksi teknologi digital, komunikasi radio ini bisa disandikan/enkripsi sehingga tidak mudah untuk disadap. Namun mereka yang berpendapat tidak memerlukan komunikasi radio melupakan pointers yang paling penting dari nilai manfaat komunikasi radio. Yang pertama adalah biaya operasional. Sudah jelas, komunikasi radio tidak memerlukan biaya pulsa. Kedua, dia bisa dipergunakan untuk komunikasi banyak arah secara bergantian. Sehingga koordinasi bisa dilakukan setiap saat. Dengan teknologi repeater tertentu bisa juga topologi komunikasi diubah menjadi hanya satu arah saja. Ketiga, komunikasi radio ini fast deploy dan sangat bermanfaat di lokasi yang blank spot dari layanan GSM atau CDMA. Keempat, total cost of ownership sistem komunikasi radio jauh lebih rendah dari handphone. Hanya memerlukan investasi awal yang sedikit lebih mahal untuk repeater. Yang bila ditotal masih akan jauh lebih murah dari operasional pulsa sebuah group relawan dalam 3 bulan. Harga handsetnya pun tidak lebih mahal dari handphone. Bahkan, dengan radio HF, kita bisa berkomunikasi jarak jauh. Misalnya Banda Aceh ke Jakarta. Tiap saat dengan biaya yang sangat murah. Kelebihan lain, perangkat radio bisa didesain portabel sehingga siap deploy di mana saja dan bisa menggunakan sumber daya beragam jenis. Mulai listrik, batrei kering, batrei basah, dan rechargeable battery. Sebuah perangkat radio bisa bertahan selama beberapa hari menggunakan sebuah aki basah. Perangkat radio juga bisa dipasang di mobil maupun sepeda motor, dengan asesoris tertentu, anggota relawan bisa tetap berkomunikasi dengan mudah. Tim AirPutih sendiri, yang banyak bekerja di lapangan, merasakan bahwa kegunaan radio komunikasi sangatlah dibutuhkan. Pada saat rekan memanjat tower dan harus berkoodinasi dengan rekan yang melakukan setting di bawah, mereka memerlukan radio komunikasi ini. Sementara koordinasi dengan Posko, pada saat yang sama bisa dilakukan. Bahkan Posko pun bisa mengikuti perkembangan situasi di lapangan hanya dengan memantau percakapan yang sedang berlangsung. Ke depan, sudah selayaknya sebuah operasi relawan bencana, dilengkapi dengan desain perangkat komunikasi radio untuk menjamin kelancaran koordinasinya.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>