Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Penanggulangan Bencana

Posted by pataka on January 14th, 2005

Saat bencana gempa dan tsunami terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004, tidak banyak orang yang tahu apa yang sebetulnya terjadi. Badan Meteorologi dan Geofisika hanya mencatat gempa dengan kekuatan 6,5 skala richter (9 skala richter menurut US Geology Service). Media massa baru tersadar betapa dahsyat musibah yang terjadi pada beberapa jam kemudian. Ketika Banda Aceh dan wilayah lainnya di Propinsi NAD tersapu tsunami yang mengerikan.

Keterlambatan ini akibat putusnya hampir seluruh infrastruktur telekomunikasi. Listrik padam, telepon tidak dapat digunakan. Baru beberapa hari kemudian listrik dan telepon dapat berfungsi secara terbatas. Baik karena kerusakan maupun hilangnya para karyawan perusahaan penyedia fasilitas umum tersebut.

Pers sebenarnya cukup cepat memasuki Banda Aceh untuk melakukan peliputan. Namun terkendala pengiriman data, baik teks, gambar, apalagi video. Proses pengiriman gambar dan data harus melalui kurir. Media fisik dibawa ke kota terdekat, Medan dan baru dikirimkan secara digital ke seluruh penjuru dunia.

Perlahan, infrastruktur telekomunikasi di Banda Aceh dipulihkan. Telkom, Indosat/Satelindo, Telkomsel berupaya keras memperbaiki jaringan mereka. Namun, prioritas utamanya adalah voice, terutama dengan teknologi wireless (GSM/CDMA) yang relatif lebih cepat diselenggarakan dan mampu melayani wilayah yang luas, untuk menggantikan sebagian besar jaringan kabel yang hancur.

Bila akses voice bisa cepat diselenggarakan, tidak demikian dengan transmisi data. Terbatasnya kapasitas saluran adalah isu yang menyulitkan pengiriman data. Sementara, di abad informasi ini, suara saja tidaklah cukup untuk menampilkan kondisi Aceh yang sesungguhnya. Karena sebagian besar media telah berbasiskan teknologi dan media digital. Mereka membutuhkan transmisi data, utamanya melalui Internet.

Akses Internet melalui saluran telepon kabel (DOV – Data Over Voice) dirasakan lamban karena kapasitasnya sangat terbatas. Sementara akses broadband seperti ADSL/HDSL jelas tidak tersedia karena hancurnya kabel primer Telkom dan juga keterbatasan jalur (trunk) link backbone ke luar Aceh.

Alternatif transmisi data menggunakan telepon satelit kapasitasnya hanya 2,4 kbps. Jelas tidak mencukupi, sementara teknologi lain juga tidak mungkin diselenggarakan dalam waktu singkat, misalnya fiber optik. Sehingga pilihan paling memungkinkan adalah menggunakan teknologi VSAT (Very Small Apperture Terminal) sebagai backbone digabungkan Wireless LAN (WLAN) untuk distribusi domestik.

Pertanyaannya, seberapa cepat fasilitas VSAT dibangun dan apakah pendukungnya tersedia (pasokan listrik, SDM dan mobilitas)? Sebuah VSAT portable berukuran dish 2.4 m mampu mentransfer data hingga T1/1,5 Mbps (mega bits per seconds). Dilengkapi perangkat terminal akses notebook dan pasokan daya dari generator 500 VA, beratnya hanya sekitar 500 kg termasuk 2 teknisi. Mobilitas cukup dilayani sebuah mobile unit atau diangkut oleh helikopter. Instalasi hanya memerlukan waktu kurang dari 4 jam.

Dengan teknologi ini, di daerah yang terpencil dan minim fasilitas sekalipun akses Internet dapat terselenggara dengan cepat. Keterbatasan pasokan daya, misalnya, tidak akan menghalangi transmisi karena internet dapat diaktifkan secara intermittent, periodik, on demand atau tidak harus terkoneksi 24 jam. Fasilitas ini dapat berhemat dengan cara penggunaan hanya pada saat dibutuhkan saja yang bisa dijembatani dengan metode penjadwalan manual sehingga mampu bertahan selama 1 minggu dengan BBM 25 liter.

Banyak yang mempertanyakan kegunaan Internet dalam situasi semacam ini. Orang seringkali tidak menyadari Internet adalah muara besar yang menghimpun aplikasi digital. Internet adalah wujud konkrit konvergensi teknologi. Internet mampu melakukan transmisi informasi dan data interaktif, termasuk menyelenggarakan kebutuhan telekomunikasi dasar (voice) melalui teknologi VOIP (Voice Over Internet Protocol). Bencana Aceh pada sisi lain membawa hikmah, teknologi internet terbukti mampu menyebarkan data dan informasi secara digital ke seluruh penjuru dunia secara cepat bahkan real time dalam bentuk multimedia.

Penanganan bencana di Aceh dan Sumut merupakan pekerjaan sangat besar. Ini adalah bencana terbesar sepanjang sejarah Republik Indonesia, bahkan dalam sejarah dunia karena meliputi hampir seluruh kawasan Asia Selatan dan mencapai Afrika. Lebih 200 ribu korban dan ratusan ribu pengungsi, masalah logistik, penyaluran bantuan menjadi hal yang sangat vital. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bantuan dari seluruh dunia, hanya bertumpuk di sudut Bandara Halim ataupun Polonia dan juga di Iskandar Muda. Meskipun bantuan terus mengalir dan di lapangan banyak pos pengungsian yang kekurangan logistik. Ini menandakan kekacauan pada manajemen logistik dan distribusi.

Penggunaan sistem informasi harus diterapkan dalam penanganan bencana ini. Dengan sistem informasi yang baik, dapat dilakukan penentuan dan prioritas distribusi bantuan ke daerah yang tepat serta jenisnya. Bantuan bisa mengalir dengan merata, tidak tertumpuk hanya di salah satu pos distribusi.

Sistem ini bisa memprediksi jumlah bantuan yang dibutuhkan di tiap titik distribusi, berdasarkan data pengungsi yang ditampung. Perbedaan jenis kelamin, usia, akan turut membedakan barang yang harus dikirimkan. Tempat pengungsian yang dihuni banyak wanita, tentu lebih banyak membutuhkan keperluan wanita, sementara tempat yang banyak menampung bayi, tentu akan membutuhkan susu dan makanan bayi. Termasuk kuantitas, jenis obat dan layanan medik yang diperlukan.

Keterbatasan transportasi pun bisa diatasi dengan memberlakukan penjadwalan yang akurat untuk setiap kepentingan mobilitas operasi kemanusiaan. Karena data yang tersaji bisa menunjukkan prioritas kebutuhan, maka dengan mudah otoritas transportasi baik udara, laut, darat dan domestik menentukan siapa yang harus segera dimobilisasi, apa jenis dan jumlah barang yang harus dikirim menggunakan alat transportasi yang paling sesuai.

Sistem informasi penanggulangan bencana bisa digunakan juga untuk pendataan korban dan pengungsi. Banyak orang dari seluruh pelosok Indonesia berduyun-duyun berusaha terbang ke Aceh, hanya untuk mencari informasi keselamatan keluarga atau kerabat. Ini menghambat proses pengiriman relawan dan bantuan, transportasi udara ataupun darat yang sangat terbatas dengan cepat tersaturasi. Ini tidak perlu terjadi apabila arus informasi dari Aceh bisa dipublikasikan luas dengan basis identifikasi yang jelas (nama, jenis kelamin, umur, alamat dst. status korban), yang terupdate real time dari waktu ke waktu.

Salah satu hal yang juga dapat dilakukan dengan sistem informasi ini adalah pencarian keluarga yang hilang. Banyak anak yang terpisah dari orang tuanya, dan dipelihara di pos pengungsian seperti layaknya anak yatim piatu. Banyak orang tua yang mencari anaknya, karena saat bencana terjadi, terpisah dan entah di mana keberadaannya. Pendataan pengungsi yang akurat, bisa menjembatani terpisahnya keluarga-keluarga ini. Mereka tinggal mencari pada data tabulasi, berdasarkan nama, tanggal lahir, ataupun asal desa. Data P4B yang dimiliki oleh KPU dan BPS bisa dijadikan data awal untuk membangun sistem informasi ini.

Tentu saja data ini memerlukan analisa dan verifikasi yang bisa dilakukan sejak dari pos terdepan yang terdiri dari para relawan selaku operatif yang langsung bersinggungan dengan masyarakat korban bencana. Data selanjutnya ditabulasi di data center daerah setiap hari untuk ditampilkan secara online di Internet dan langsung bisa dikutip oleh media (feeding). Hasil tabulasi ini bisa digunakan pula oleh semua intansi terkait untuk menentukan prioritas kontingensi masing-masing. Sehingga seluruh kekuatan bantuan bisa bekerja secara sinergis, tidak terjadi overlap yang berlebihan.

Data yang tersaji detail juga akan meningkatkan kredibilitas dan akuntabilitas keseluruhan operasi kemanusiaan ini terutama dihadapan dunia internasional. Otoritas tanggap darurat dapat melakukan kegiatan public relation melalui konferensi pers yang lebih simpatik dan percaya diri, karena memiliki basis data yang akurat, bukan hanya berdasarkan angka namun juga statistik detail.

Sistem informasi ini perlu ditunjang infrastruktur data yang harus bisa dibangun cepat dan ekonomis. Selain VSAT, salah satu pilihan yang bisa dipakai adalah teknologi wireless local area network (Wireless Lan). WLAN memungkinkan terwujudnya jalur-jalur data dengan radius 10 km. Titik-titik penting seperti bandara, pelabuhan, pos pengungsian, kantor-kantor LSM dan NGO yang terlibat dalam penanggulangan bencana dapat dihubungkan sehingga dapat melakukan interkoneksi akses data dan pertukarannya, selain untuk menginput data yang mereka miliki.

Bencana Aceh memang sudah lewat. Namun kepedihannya masih akan terus terasa. Proses penanggulangan Aceh mungkin masih akan memakan waktu beberapa bulan ke depan, bahkan mungkin lewat dari waktu 1 tahun. Jika sistem yang bisa menangani bencana ini belum tersedia, sekaranglah saatnya untuk memulai pembuatan sistem ini. Diperlukan kerjasama tim yang baik, mulai dari sistem analis, programmer, ahli database, dan ahli jaringan. Saatnya komunitas IT tidak hanya duduk dan mendengar setiap berita demi berita, namun juga berbuat untuk menyiapkan sistem yang bisa digunakan. Bukan berharap, namun bencana bisa jadi terjadi lagi. Dan saat itu sebaiknya kita sudah siap.

Valens Riyadi dan M. Salahuddien
Anggota tim AirPutih, Relawan IT di Aceh

(tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>