Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Dibalik Misi Tim AirPutih ke Aceh

Posted by pataka on December 31st, 2004

Bahwa pengiriman Tim ke Aceh memerlukan pengorbanan, semuanya telah mahfum. Yang barangkali jarang diungkap adalah bagaimana pengorbanan dan upaya itu dilakukan? Dalam hal ini Penulis mencoba mengungkap sedikit bagaimana support dan operasional Tim AirPutih, sebagian pembahasan soal dana disebutkan sebagai upaya awal menunjukkan transparansi dan akuntabilitas. Meski sampai saat ini Tim belum menemukan cara terbaik untuk menunjukkan itu, kita jelas nggak mampu seperti Metro TV meng-hire akuntan publik. Kami hanya menyusun list pendanaan dan expenses di web, dengan harapan anda semua, kontributor memiliki kepercayaan tinggi terhadap integritas kami. Dan kami hanya bisa berjanji tidak akan mengkhianatinya.

Tim AirPutih dibentuk pada hari Selasa 27 Desember 2004 dini hari, sekitar 40 jam pasca bencana, atas inisiatif komunitas aktivis dan pers TI Nasional. Bagi sebuah kelompok pendadakan seperti ini, tidaklah mudah mengumpulkan resource yang harus siap bertempur di medan bencana terbesar sepanjang sejarah negeri ini.

Apalagi suasana Natal dan liburan tahun baru mendominasi. Banyak kantor sudah tutup, gudang dan outlet tidak lagi melayani transaksi serta mulainya aktivitas audit akhir tahun bisnis ditambah para pejabat cuti demikian juga para penghubung. Lengkaplah kesulitan penanganan bencana.

Tidak mudah menemukan orang yang bersedia bekerja dalam situasi seperti ini. Seluruh anggota Tim AirPutih pun tersenyum pahit. Jadwal liburan bersama para keluarga tercinta, dengan ikhlas harus ditinggalkan. Demikian juga mencari lembaga pendukung untuk memberikan kontribusi terhadap keberadaan Tim ini.

Sejumlah nama besar di dunia IT Nasional, baik lembaga dan perorangan pun dicatut, antara lain FTII, APJII, IndoWLI, AWARI, Ditjen Postel, Kantor Mentri Kominfo, Kantor Menko Kesra, ISP PSN, GenID dan kelompok aktivis pers Pena Indonesia serta Relawan Bangsa serta tentu saja komunitas AirPutih sendiri dan komunitas TI lainnya. Terutama di milis2.

Cukup mengejutkan, dengan tampilan yang sangat minimalis, web site ini sudah dikunjungi belasan ribu orang hanya dalam dua hari. Antusiasme luar biasa dan harapan pengunjung menimbulkan rasa trenyuh dan kebimbangan bagi seluruh anggota Tim, apakah kami sanggup memikul amanah ini? Doakan kami …

Tidak terhitung pula banyaknya request untuk menjadi relawan yang semuanya dengan berat hati kami salurkan ke Posko Relawan Bangsa di Jl. Proklamasi 51 Jakarta. Karena tidak mungkin Tim ini menampung antusiasme yang teramat mengharukan dari sekian banyak aktivis dan relawan.

Banyak orang tidak menyadari, bahwa upaya bantuan ini ternyata terkendala oleh banyak persoalan yang justru bersumber dari kebijakan pemerintah sendiri terhadap Industri TI Nasional. Salah satunya adalah kelangkaan perangkat telekomunikasi dan komputer sebagai akibat kebijakan screening bea cukai (atau lebih dikenal dengan istilah “lampu merah”) selama beberapa bulan terakhir.

Selain itu masalah kebijakan politik, meskipun Wakil Presiden sudah menjamin terbukanya Aceh bagi segala upaya bantuan, pada kenyataannya, hantu keamanan Aceh sebagai daerah konflik masih sering menjadi alasan berbagai pihak yang menghambat upaya ini. Demikian juga berbagai batasan untuk menerima bantuan asing, padahal pada dua hari terakhir Tim AirPutih justru banyak menerima tawaran bantuan asing dari berbagai negara dan perusahaan asing. Baik dalam bentuk dana, equipment dan tenaga ahli serta sukarelawan. Pagi tadi, Penulis terlibat conference via Yahoo Messenger dengan seorang volunteer IT expert di Bahama yang bertekat datang ke Indonesia.

Penundaan pemberangkatan Tim selama 3 hari, ternyata membawa hikmah tersendiri, berupa kesempatan mengumpulkan perlengkapan yang paling fit dan efektif diperlukan di lapangan. Sungguhpun demikian, sampai detik terakhir ini Tim tidak berhasil mendapatkan satu genset pun. Harus diakui ada perasaan kecewa kepada beberapa pihak, karena meskipun mereka sangat kita harapkan uluran tangannya, ternyata pada saat dibutuhkan tidak bisa memberi kontribusi.

Banyak himbauan tidak ditanggapi, sehingga Tim harus berupaya sendiri. Namun akhirnya kami memilih bersikap realistis dan prasangka baik. Situasi liburan ini dan berbagai keterbatasan lain barangkali adalah alasan utama sulitnya untuk menghimpun resource. Kendala lain jarak dan situasi bencana itu sendiri.

Namun, kami juga menemukan banyak pertolongan serta kebesaran Tuhan yang sangat patut disyukuri karena selalu saja ada uluran tangan, pada akhirnya. Satu contoh, pada hari pertama koordinasi, tiba-tiba saja datang sekelompok orang yang sebelumnya tidak kita kenal sama sekali ke sekretariat APJII yang menjadi Posko Tim AirPutih. Mereka ini kemudian menyumbangkan dana dalam jumlah yang tidak sedikit dan dibebaskan untuk penggunaan apapun oleh Tim.

Di pihak lain, jalur “pendanaan dan donatur formal” yang biasa mensponsori aktivitas Tim TI Nasional ini, malah mengalami hambatan cukup parah bahkan sebagian orang tidak bisa dihubungi. Sekali lagi, kita hanya berusaha memahami situasinya.

Contoh kasus, kebutuhan VSAT dan Wireless equipment, meskipun asosiasi yang terkait mendukung penuh, ternyata cukup sulit mendapatkan perangkat2 tsb. Penulis sendiri selama 3 hari sudah “mengemis” kanan kiri, dengan hasil NOL BESAR. Bahkan tak sebuah GPS pun kita dapat (catatan : GPS dan handphone Flexi Penulis hilang di Bandara Cengkareng).

Namun, kembali, Tuhan menggantinya dengan kemudahan yang lain. Datang pula beberapa rekan meminjamkan radio komunikasi dan last minutes 5 buah HP Flexi dari Telkom Pusat serta menyusul beberapa perangkat Wireless. Dari daerah, sejumlah perangkat juga dikirimkan, namun tentu saja memerlukan waktu untuk sampai ke Posko Tim AirPutih.

Perlengkapan Tim, dibeli dengan dana pribadi, demikian juga ongkos2 perjalanan karena sebagian besar anggota Tim Lapangan AirPutih berasal dari luar Jakarta. Inipun cukup mengherankan, karena seharusnya Jakarta tersedia banyak stock SDM dan tenaga ahli, tetapi justru rekan daerah yang nongol 😉

Bahkan sejumlah VSAT Provider, NAP dan ISP yang satu gedung dengan Posko Tim AirPutih pun kesulitan memberikan kontribusi. VSAT, Genset, Notebook, GPS, Wireless Equipment adalah alat2 vital yang harus tersedia apabila ingin misi ini bisa berlangsung sempurna. Termasuk alternatif HDSL, VOIP Gateway/IP Phone dan berbagai appliance equipment lain yang diyakini mampu memecahkan isolasi komunikasi di lokasi bencana.

Misi singkat : How to build a volunteer wireless and VSAT ISP in one day di daerah bencana ternyata tidak sesingkat tulisannya 😉

Saat ini, teman2 tim masih tersenyum pahit. Transportasi untuk mengirimkan Tim inti masih tanda tanya besar. Koordinator Tim, Valens dan Sekjen APJII, Heru Nugroho sedang bergerilya dari satu bandara ke tangsi militer untuk dapat seat ke Aceh ASAP. Di sisi lain, Edo sebagai koordinator Posko sudah mulai buka topi untuk mengumpulkan saweran, mengingat dana sudah terkuras habis ;-(

Demikianlah, pada akhirnya Tim AirPutih akan selalu tergantung kepada kontribusi serta kepedulian anda semua. Maka, kami berharap anda berkenan memberikan apapun yang mungkin untuk mensupport kami dan terutama para korban bencana, saudara2 kita di Aceh. Website dan Posko Tim Relawan AirPutih tetap terbuka untuk partisipasi anda.

Berjuta terima kasih dan semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita semua.

( tulisan ini dimuat di http://www.acehmediacenter.or.id )

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>