Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Pelajaran Cinta Buat PSSI dan ‘Liga Kampung’ Divisi I

Posted by pataka on October 9th, 2004

(sebuah sudut pandang penggemar)

Sepak bola adalah olah raga paling populer di kolong jagad, bahkan di bumi ini, Indonesia. Namun, sepak bola nasional sejak masa orde baru, perkembangan nya sungguh memprihatinkan, alias tak pernah mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Sampai bosan masyarakat menunggu prestasi yang membanggakan.

Semua carut marut berujung pada manajemen yang buruk, sarat skandal, penuh intrik egosentrisme, permainan politis, kekuasaan dan uang, yang selalu terjadi di satu-satunya organisasi yang mengurusi sepak bola nasional, yaitu PSSI.

Kelakuan buruk itu seperti jadi tradisi yang justru dilestarikan, bahkan seluruh struktur organisasi tak memiliki lagi ‘urat malu’. Mereka terus mempertontonkan perilaku yang sangat ganjil serta penyelenggaraan kompetisi dipenuhi berbagai kontroversi kepada publik sepak bola nasional sambil bersikap seolah tidak ada sesuatu yang salah sedang berlangsung.

Lihat saja, bahkan Ketua Umum PSSI sendiri menjadi tersangka kasus korupsi dan penyelundupan. Walau masih perlu dibuktikan secara hukum, akan tetapi sudah jelas mustahil seorang pesakitan bisa memimpin organisasi sebesar PSSI secara efektif dari balik jeruji besi dan harus berkonsentrasi pada kasus pribadi. Akibatnya, gelaran Divisi Utama dan apalagi Divisi I, kacau balau. Masyarakat pun meledek dengan mengatakan, PSSI sedang sibuk menggelar liga lain, yaitu antar pengurusnya sendiri!

Bahkan publik bola sudah lama maklum bahwa kompetisi selalu dipenuhi dengan skenario pemenangan pihak tertentu. Tidak ada sportifitas di sini yang ada hanya kronisme yang tentu saja sangat sulit dibuktikan namun sangat dirasakan publik. Salah satu indikasi berdasarkan logika akal sehat, adalah tak adanya prestasi di tingkat regional maupun apalagi internasional selama bertahun-tahun. Padahal PSSI diketahui sebagai organisasi paling kaya dan penuh fasilitas dalam jajaran KONI. Belum lagi sponsor dan partisipasi penonton yang luar biasa, tak ada kata sepi. Apalagi, setiap tim yang berlaga, demi gengsi selalu kirim upeti.

Dalam situasi yang sangat tidak ideal, masih ada fenomena positif yang bisa jadi perlipur lara. Salah satu fenomena itu adalah PS AREMA Malang, dengan para pendukung fanatik yang sangat dikenal diseluruh penjuru negeri, Aremania. Di kompetisi Divisi Utama tahun lalu, publik Aremania mendapat pil pahit dengan di degradasi-kan-nya PS AREMA ke Divisi I melalui sebuah skandal, intrik sistematis yang melibatkan berbagai pihak, mulai wasit, klub lawan sampai PSSI sendiri.

Sampai-sampai publik Aremania memiliki daftar hitam wasit dan tokoh PSSI.

Namun, PS AREMA tak patah arang. Mereka telah bekerja keras mewujudkan The Dream Team yang sangat dinanti publik Aremania. Melalui perjuangan panjang, termasuk berbagai skandal transfer pemain serta putusan kontroversial PSSI, akhirnya sebuah tim solid berhasil terwujud. Meski untuk itu pemilik PS AREMA, PT Bentoel harus merogoh kocek sangat dalam dan menjadi rekor untuk sebuah Tim ‘Liga Kampung’ Divisi I PSSI. Semua demi teladan sepak bola profesional.

Demikian juga Aremania, bahkan sebagai supporter terbaik seantero nusantara mereka sangat antusias bukan hanya untuk mendukung PS AREMA. Namun juga memberikan teladan serta daya tarik kelas dunia aksi supporter beradab. Sebuah atmosfir yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah kompetisi Divisi I. Inilah fenomena yang mengangkat martabat sebuah ‘Liga Kampung’ menjadi tontonan yang sangat diperhitungkan. Walaupun kecemburuan sempat melanda beberapa pihak dan tim yang belum siap bersikap dewasa dan profesional.

Ditengah hingar bingar Divisi Utama, aksi PS AREMA dan Aremania terus mencuri ruang media. Ketika Divisi Utama ricuh oleh aksi Bonek pendukung Persebaya, Aremania justru mendidik para supporter di lingkungan Divisi I. Aremania hangat disambut dimana-mana.

Puncaknya adalah ketika puluhan ribu Aremania menyerbu Jakarta dalam putaran enam besar Divisi I. Puluhan gerbong kereta, puluhan bus, puluhan mobil pribadi, bahkan mereka menumpang truk serta yang elite naik pesawat bercampur baur, menyatu dalam gelombang euforia Aremania. Tak ada lagi pangkat derajat dan tebalnya kocek, hanya ada satu identitas : BIRU.

Lagi-lagi sebuah sejarah yang selama ini belum pernah terjadi. Karena putaran final ini berlangsung selama lebih dari satu minggu! Aremania mempertontonkan sikap supporter fanatik yang beradab, atraktif, tertib, damai dan membanggakan. Walaupun PSSI tetap bersikap merendahkan dengan hanya menyediakan Lebak Bulus, sebuah stadion kelas 2, bukan Senayan.

Namun nampaknya, ujian selalu menghampiri Aremania dan PS AREMA. Selama Divisi I diputar, beberapa kali PS AREMA diganjal. Bahkan pemain PS AREMA ada yang sempat dipenjarakan dan dilarang bermain. Kini, di babak akhir, final justru PSSI sendiri membuat masalah.

PSSI menjatuhkan hukuman pada salah satu finalis, Persiba Balikpapan, atas kasus yang sebenarnya telah terjadi jauh hari, menyangkut status salah satu pemain. Sebuah status yang PSSI sendiri ikut berperan dan bertanggung jawab dalam masalah tersebut. Semata karena intrik untuk menguntungkan klub yang telah ‘pesan tempat’ di final, yaitu Persibom.

Situasi polemik itu serta merta mempengaruhi posisi PS AREMA, dimana jadwal pertandingan terpaksa harus berubah akibat keputusan kontroversial tersebut. Lebih krusial lagi, Persiba adalah tim yang seharusnya dihadapi PS AREMA pada laga final lanjutan berikutnya. Kini mendadak, PS AREMA harus menghadapi PS Persibom yang belum pernah ‘dikalkulasi’ sebelumnya.

PS AREMA dan tim final lainnya yang melaju ke babak berikutnya, juga harus menanggung biaya ekstra karena molornya jadwal pertandingan serta repot mempertahankan kondisi fisik dan mental pemain yang merasa dijadikan kelinci percobaan PSSI. Soal biaya, bagi PS AREMA memang barangkali bukan masalah besar, namun bagi tim Divisi I lain yang tidak didukung oleh finansial super, satu dua hari tambahan di Jakarta adalah sebuah pukulan.

Aremania pun menghadapi masalah serupa. Meskipun semangat tempur tinggi, disiplin hebat, siapapun tahu bahwa kesabaran ada batasnya. Situasi yang tidak menentu dan perasaan kecewa, dengan sedikit provokasi saja bisa meledakkan puluhan ribu Aremania. Kekhawatiran itu bukan saja menghinggapi publik sepak bola dan masyarakat Jakarta, namun juga bagi para koordinator lapangan.

Saat ini, koordinator lapangan di sekitar stadion Lebak Bulus (dimana Aremania menggelar tenda) berusaha keras meredam emosi sambil memberi peringatan pada seluruh Aremania. Bahwa situasi ini mungkin sengaja dikondisikan oleh PSSI untuk memancing Aremania sehingga mereka bertindak bodoh mencoreng muka sendiri. Sebab Aremania memiliki sifat pride yang sangat tinggi, bila ini disinggung, bahkan nyawa pun akan mereka pertaruhkan. Inilah titik krusial.

Aremania datang ke Jakarta dengan beban psikologis dendam kesumat pada PSSI karena kasus pelecehan pada PS AREMA selama putaran Divisi I belum dituntaskan. Berkali-kali mereka mengancam untuk demonstrasi di depan PSSI bahkan dalam setiap atraksi mereka juga diselingi ledekan pada PSSI. Situasi memang sudah terlanjur panas.

Beberapa waktu lalu AremaniaCyber (salah satu faksi Aremania di Internet) sampai melayangkan surat protes resmi ke FIFA dan AFC dan telah ditanggapi sangat serius oleh para petinggi organisasi sepak bola dunia dan asia tersebut. Namun, tanggapan PSSI sangat adem ayem, sampai lembaga sepak bola dunia tersebut harus memberi ancaman serius berupa pencoretan Indonesia sebagai tuan rumah putaran kejuaraan tingkat regional asia dan internasional.

Untunglah, sore tadi, PS AREMA berhasil menaklukkan bukan hanya Persibom, dengan hasil telak 3 – 0, namun juga sekaligus mematahkan skenario hitam dari PSSI. PS AREMA memastikan tiketnya di Divisi Utama tahun depan. Ini sangat melegakan Aremania, sehingga mereka bisa melepaskan emosinya dengan haru biru bukan huru hara. PS AREMA hanya memerlukan satu langkah untuk menjadi Juara Divisi I.

Aremania sekali lagi telah memberikan pelajaran sangat berharga pada Divisi I serta PSSI. Sebuah pelajaran yang pasti dipetik hikmahnya oleh para pecinta sebak bola nasional, namun hampir pasti diabaikan oleh PSSI. Aremania tidak pernah peduli, karena mereka yakin PSSI adalah virus kronisme yang hanya bisa dilawan dengan vaksin semangat sportifitas dan aksi supporter kelas dunia ala Aremania!

Komunitas sepak bola nasional hanya tinggal mengikuti jejak PS AREMA dengan Aremania-nya yang super fanatik namun penuh damai & persaudaraan. Dengan sendirinya kebobrokan PSSI serta tim sepak bola kronismenya hanya akan jadi ‘tai’ yang terlupakan di sudut wc.

Bersiaplah Divisi Utama, kami datang dengan vaksin sepak bola cinta!

Malang, 9 Oktober 2004

(tulisan ini pernah dimuat di http://www.aremaniacyber.com )

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>