Pataka WebLOG

Pataka Official Site

Gus Dur, Berjuanglah di Tengah Rakjat! (Bagian 3/3 – Habis)

Posted by pataka on May 22nd, 2004

Kedua, pahami latar belakang Gus Dur. Dia adalah aktivis LSM demokrasi, tokoh yang selalu tertindas dan dianiaya oleh rejim orde baru maupun neo orde baru. Selalu dikhianati oleh orang yang justru diorbitkan oleh kelihayan manuver politik Gus Dur.

Agenda Gus Dur yang secara konsisten diperjuangkan di semua lini pertempuran adalah melakukan demokratisasi melalui proses budaya. Gus Dur bukan hanya melakukan reformasi, namun juga revolusi pemikiran dan cara implementasi.

Gus Dur menabrak dan memotong banyak jalur sehingga nampak ia berseberangan dengan common sense kebanyakan masyarakat negeri ini. Tidak heran ia dianggap kontroversial. Walau sesungguhnya hanya karena umumnya orang tidak paham apa yang menjadi tujuan dan harapannya terhadap bangsa ini.

Gus Dur adalah mahaguru demokrasi. Ia memberikan pengajaran bukan melalui teori, melainkan langsung dengan praktek yang kerapkali menyerap banyak energi dan sumber daya. Tidak heran bila orang merasa capek dan tidak mampu mengikuti laju proses yang sekaligus diwujudkan dalam satu kesempatan.

Seringkali Gus Dur memberikan excercise amat berat serta menempatkan dirinya sebagai subyek. Meskipun seringkali ia justru menjadi korban, namun ia menerimanya. Ia bersikap sebagai seorang martir, menimpakan kegagalan pada dirinya sendiri. Justru itu sebenarnya mengurangi resiko bagi pihak lain, ia seperti seorang Bapak yang melindungi anaknya.

Misalnya dalam peristiwa Dekrit sesaat sebelum pelengseran dirinya. Dekrit adalah perlawanan politis terhadap kudeta politik yang dilakukan parlemen. Itu adalah langkah extra konstitusional yang mengimbangi upaya inkonstitusional dari parlemen dan partai politik.

Di kemudian hari, itu akan menjadi catatan sejarah sepanjang RI masih berdiri di muka bumi. Pelajaran penting, excercise terhadap pelaksanaan konstitusi dalam tahapan pembelajaran demokratisasi bangsa ini.

Dekrit itu mengungkap fakta terjadi pembangkangan instrumen keamanan dari kepala negara, kekuasaan tertinggi pemerintahan dan sekaligus pimpinan kepolisian serta presiden panglima tertinggi angkatan bersenjata yang secara jelas ditulis dalam Undang Undang Dasar.

Apabila Dekrit tersebut tidak dikeluarkan, maka ia hanya menyerah terhadap keadaan tanpa memberikan pesan apapun kepada anak cucu kita kelak. Justru Dekrit itu dengan nyata menempatkan semua pihak yang terlibat dalam posisinya yang sesungguhnya, siapa mendukung, siapa menolak dan memberikan bukti terjadinya konspirasi politik dan apa latar belakang serta tujuannya.

Di kemudian hari semuanya terbukti. Bahkan sejumlah tokoh yang dulu terlibat, pada akhirnya mengakui bahwa mereka telah terjebak oleh permainan jangka panjang pihak status quo. Kesadaran yang terlambat, karena situasi kini telah berbalik arah, neo orde baru telah lahir kembali, bergandeng mesra dengan bangkitnya kekuatan militer ke dalam kancah politik dan kekuasaan nasional.

Jelaslah kini siapa yang tersingkir. Kekuatan politik sipil dan kekuatan reformis. Silahkan gigit jari.

Kini, Gus Dur kembali berhadapan dengan kenyataan politik yang diskriminatif dan tidak demokratis. Sebuah perlakuan sistematik berlangsung untuk mencegah Gus Dur dan kekuatan sipil demokrat reformis tampil kembali mengimbangi kekuatan status quo dan come back-nya militer.

Gus Dur memang dijegal secara menyakitkan, sekali lagi. Tapi ini adalah excercise awal dari upaya besar Gus Dur untuk membuka lebih jauh dan menunjukkan kepada rakyat rangkaian konspirasi politik yang berupaya mengembalikan kekuatan lama menguasai negeri ini.

Perlawanan Gus Dur, seperti bisa tidak akan berhenti di sini dan masih akan ada proses yang amat panjang. Sekaligus juga membuka wacana baru atas amputasi hak dipilih bagi warga negara yang memiliki keterbatasan fisik.

Melalui kasus Gus Dur, Indonesia akan terus dipaksa untuk melihat fakta internasional. Bahwa seorang tuna netra bisa menjadi Menteri Dalam Negeri negara adidaya, Inggris, saat ini. Seorang lumpuh mampu membangkitkan kepercayaan diri bangsa Amerika pada PD II karena sebagian besar armadanya hancur di Pearl Harbour, dia adalah Presiden FD Roseveelt.

Gus Dur sebagai pecandu musik klasik, tentu akan menampilkan fakta luar biasa bahwa komposer terbesar sepanjang sejarah, Beethoven justru mencapai puncak karyanya justru ketika dia telah dalam keadaan tuli total! Bagaimana seorang tuli bisa menciptakan komposisi musik aransemen yang abadi sepanjang masa dan memberi inspirasi kepada ummat manusia, termasuk Gus Dur.

Ataupun Vincent Van Gogh yang juga tuli dan menderita sakit secara mental, tetap mampu menghasilkan karya terbaik dan menjadi sangat produktif hingga penyakit itu membawanya ke ajal.

Atau kita harus berkaca pada pemimpin bangsa ini di masa lalu, Panglima Besar Jenderal Sudirman yang memenangkan perang gerilya dalam tandu dan dalam kondisi paru-paru tak berfungsi. Juga Tjoet Nya Dhien yang buta, lumpuh namun tetap menolak menyerah kepada penjajah serta memberi nyawa dan inspirasi seluruh bangsa Atjeh.

Terakhir, kengototan Gus Dur melaju sebagai capres tidak lepas dari amanah para ulama/kayi khos. Para pemimpin ummat yang sampai sejauh ini dipercaya sebagai muara suara rakyat yang paling murni. Kepatuhan Gus Dur kepada ulama adalah suatu jalan tersendiri yang tidak banyak diketahui oleh orang kebanyakan. Suatu alasan spiritual yang tidak akan dengan mudah dicerna.

Gus Dur, dipercaya adalah Semar dalam tokoh pewayangan. Ia adalah guru laku, tokoh tertinggi yang merendahkan diri dan tampil sebagai seorang jongos. Demikianlah sikap Gus Dur terhadap para Ulama utama. Gus Dur adalah sekedar pion. Di balik ini, ada kepentingan dan suara rakyat yang amat besar melalui amanat para ulama.

Sebuah kepentingan mulia yang tentu saja sejalan dengan apa yang selama ini telah dilakukan Gus Dur. Kepentingan tulus, untuk memberdayakan dan menempatkan rakyat jelata dalam satu posisi tawar yang kuat terhadap pemerintahan dan kekuasaan.

Siapapun itu nantinya yang akan berkuasa.

Gus Dur, hanyalah alat untuk memperkaya proses tersebut. Dan ia bersedia disalahpahami kredibilitasnya untuk tujuan tersebut. Sebab hanya Gus Dur yang bisa begitu.

Gitu aja kok repot!

(Habis)

9 Responses to “Gus Dur, Berjuanglah di Tengah Rakjat! (Bagian 3/3 – Habis)”

  1. TARUNA Mozilla Firefox 2.0.0.18 Windows Vista
    Says on Mozilla Firefox 2.0.0.18 Windows Vista

    [-(Saya rasa gus dur tidak sehabat tulisan anda…, beliau sosok yang hebat, hebat dalam melakukan trik supaya orang lain jadi bingung, karena biasanya orang bingung jadi mudah untuk dibodohi, dan dijadikan bulan-bulanan.. Saya resepk ama gus dur cuman sepak terjang beliau sudah tidak populis lagi, artinya semakin banyak orang yang meninggalkan beliau karena “ketidakwarasan” nya dalam beradu aksi di panggung perpolitikan nasional. Sekarang gampang saja andaikan ada tiga atau lebih orang menganggap 1 orang itu salah dan 1 orang tsb menganggap 3 orang yang salah mana yang bersalah menurut anda? Matori, Alwi Shihab, dan Muhaimin Iskandar adalah orang-orang yang dipilih gusdur, tetapi dianggap mbalelo oleh gusdur, 3 pilihan yang salahkah atau gusdur biasa memilih orang-orang yang salah karena gusdur sendiri banyak salahnya?

  2. pataka Mozilla Firefox 3.0.3 Mac OS X 10
    Says on Mozilla Firefox 3.0.3 Mac OS X 10

    Bukan saya yang mengatakan Gus Dur hebat, melainkan dunia mengakuinya. Saya hanya salah seorang yang merasakannya. Orang lain, bahkan boleh jadi sebagian besar bangsa ini tidak menyadarinya. Sama seprti Bung Hatta, hanya dikenal sebagai salah satu proklamator padahal beliau adalah arsitek sistem ekonomi negara ini. Kebanyakan orang hanya mengenal kehebatan Soekarno. Untuk mengetahui lebih dalam siapakah seseorang itu, adalah dengan membaca karyanya dan membandingkannya dengan tokoh yang lain. Dari situ kita bisa turut menilai.

    Kalau hanya membaca koran dan majalah atau nonton TV yang ruang bahasannya sedikit, serta isinya kebanyakan komentar pengamat yang sok tahu, maka kita bisa tersesat menjadi menghakimi seseorang tanpa tahu apa latar belakangnya. Apalagi di panggung politik yang penuh dengan intrik, tidak ada baik atau buruk yang ada kepentingan belaka. Tidak seperti politisi lain yang kebanyakan pragmatis, kompromis, aji mumpung, Gus Dur adalah sosok yang memang tidak populer karena selalu teguh sikap dan pendirian mempertahankan kebenarannya. Konsisten, apapun resikonya akan diterima, termasuk bila disalahpahami, difitnah, dipelintir atau bahkan dikhianati orang terdekatnya sendiri. Tidak banyak tokoh yang mau seperti itu, berkorban untuk nilai yang lebih mulia.

    Semua tokoh yang anda sebutkan, adalah murid politik Gus Dur. Mereka adalah kelompok yang memilih jalan pragmatis dalam berpolitik. Dalam politik ini hal yang biasa. Bukan masalah benar atau salah walaupun kedua belah pihak sama-sama menggunakan jargon kebenaran.

    Sama dengan politisi lain pada umumnya. Pada satu sisi, mereka ini oleh Gus Dur dibutuhkan untuk kepentingan jangka pendek, misalnya mendulang suara dalam Pemilu atau untuk mendapatkan konsesi kekuasaan. Namun pada sisi lain, mereka juga ditanamkan sikap untuk memperjuangkan ideologi politik yang dianut, kepentingan konstituen, konstitusi dan masalah kontemporer seperti pluralitas, HAM dan ekonomi kerakyatan. Dimana ini perlu pengorbanan dan konsistensi.

    Kenyataannya dalam perjalanan, mereka ini lebih memilih jalan pragmatis sebagai politisi. Bahkan untuk itu rela berseberangan dengan guru politiknya. Bahkan ada yang meninggalkan rumah, seperti Saifulah Yusuf, Khofifah dsb. Walaupun sebenarnya politisi yang konsisten dalam perjuangan lebih banyak jumlahnya tetapi mereka tidak populer. Matori, Alwi bahkan Muhaimin memilih berseberangan dengan Gus Dur demi untuk mendapatkan konsesi politik hasil kompromi dengan incumbent kekuasaan dan pesaing politiknya. Akibatnya mereka jadi melalaikan perjuangan.

    Ini yang ditentang Gus Dur. Kalau ingin menjadi partai yang besar, politisi yang matang, janganlah mudah tergiur dengan konsesi politik. Sebab hanya partai dan politisi militan dalam perjuangannya saja yang akan eksis dan punya nama besar yang membanggakan dan dikenang oleh rakyat. Politisi yang seperti inilah yang akan membawa kebaikan bagi bangsa bukan yang pragmatis dan hanya berorientasi kekuasaan jangka pendek. Sebab kekuasaan hanya fatamorgana belaka.

    Saya sarankan anda mulai membaca buku karya Gus Dur dan pemikirannya.

  3. alex Mozilla Firefox 3.0.6 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.6 Windows XP

    Lantas sekarang kita tidak bisa lagi merasakan sentuhan Gus Dur untuk demokrasi bagi bangsa ini,, PKB terkoyak-koyak sedemikian rupa..

    Kira-kira apa rencana beliau ke depan? dan berita terkini yang menghiasi media adalah ajakan untuk golput! kira-kira seberapa besar efek yang bisa di hasilkan ya?

    Mudah-mudahan amal beliau tidak sia-sia.
    Semoga tuhan selalu memberikan kesehatan dan kekuatan untuk beliau dan keluarganya dan juga sahabatnya.

  4. marta Mozilla Firefox 3.0.1 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.1 Windows XP

    gus dur hebat? coba tanya ama mahasiswa di seluruh Indonesia, hanya orang tolol yang gak mengikuti perkembangan politik yang bilang dia hebat. hebat apanya? cuma bikin kisruh negara…sok ngerasa npenting. bilangin tuh mas ama gus dur, udah tua gak usah repot2 mikir negara…n gak usah berusaha buat negara ini tambah amburadul dengan statement nya yang kayak anak balita. eneg tau mas liat sepak terjangnya. suruh tobat. udah tua. masaka mau masih mikir kumpulin warisan buat anak bininya kalo tar dia udah pass away? tar kalo udah di akhirat, gak ada kali yang kepikiran ma dia. mungkin c di doain ma kluarganya, tapi gak tau nyampe apa gak. coz gus dur tuh udah ngelecehin agamanya sendiri. mana ada sih orang yang jelek2in agamanya sendiri, kitab sucinya sendiri? cuma orang atheis kale…

  5. pataka Mozilla Firefox 3.0.6 SuSE Linux
    Says on Mozilla Firefox 3.0.6 SuSE Linux

    Kalau kurang cermat dan tidak berusaha memahami seluruh kerangka berpikir dan latar belakangnya alias hanya membaca, mendengar, melihat sepotong berita di media saja, apalagi hanya dikutip pada saat satu ucapan kalimat yang bombastis misalnya “Al Quran itu porno” padahal sebenarnya itu kalimat itu punya rangkaian lain yang jauh lebih panjang, tentu saja orang akan mengatakan Gus Dur ngaco, suka menjelekkan agama sendiri dsb. Kalau ingin mengetahui pemikiran Gus Dur itu seperti apa, sebaiknya membaca buku-buku karyanya secara tuntas. Saya kira itu caranya yang paling mudah untuk mencoba memahami. Dari situ anda akan tahu bahwa Gus Dur memiliki track record yang konsisten dengan pendiriannya, tidak plin plan dan apa sebab latar belakang pemikirannya. Gus Dur seorang yang berpikir dengan kerangka akademis yang jelas serta terstruktur, ada sumber rujukan ilmiahnya. Jadi silahkan mengkritisi tapi tentu saja dengan menyampaikan argumen yang juga punya dasar ilmiah jelas. Seperti misalnya dalam kasus Israel vs Palestina. Kebanyakan orang hanyut dalam suasana sentimentil permusuhan Islam vs Yahudi, padahal kalau membaca sejarahnya secara mendalam, bisa jadi justru biang keroknya adalah bangsa Arab sendiri dan baik Israel maupun terutama Palestina adalah korbannya. Anda boleh saja tetap tidak setuju dengan pemikirannya dan itu sah, biasa dalam demokrasi. Tetapi yang penting tidak salah paham sehingga sampai menghujat, justru itu yang salah.

  6. faried_tnc Mozilla Firefox 3.0.6 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.6 Windows XP

    gusdur is the real icon demokrasi,indonesia punya hutang kepada beliau soal pelengseran dari RI 1 yg belum jelas status hukumnya,sampai kapanpun akan saya ingat bahwa seorang presiden dr negara domokrasi di turunkan tanpa persidangan pidana maupun perdata
    saya sedih karena bangsa kita kembali 12 taun kebelakang,blm lagi ada front islam yg sangat anarkis.duh,bila tuhan mendengar doa saya moga2 gusdur panjang umur.amin

  7. koko Mozilla Firefox 3.0.8 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.8 Windows XP

    GUS DUR DIMATA DUNIA
    Ada yang menarik dari konferensi tahunan ketujuh yang diadakan oleh Globalization for the Common Good, From the Middle East to Asia Facific: Arc of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions, 30 Juni – 3 Juli 2008, di Melbourne, Australia. Para peserta dan pembicara yang berasal dari universitas-universitas terkemuka pelbagai Negara ini hampir selalu menyebut nama mantan presiden Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebagai contoh ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih memperjuangkan semangat toleransi dan perdamaian.
    Prof. Muddathir Abdel-Rahim (International Institute of Islamic Thought and Civilization, Malaysia) menunjuk Gus Dur sebagai sosok yang berhasil membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam yang cenderung dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan perdamaian. Prof. Abdullah Saeed (The University of Melbourne) juga mengakui posisi penting Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-nilai universal al-Qur’an. Dr. Natalie Mobini Kesheh (Australian Baha’i Community) mengatakan bahwa satu-satunya pemimpin Islam dunia yang begitu akomodatif terhadap komunitas Baha’i adalah Gus Dur. Prof. James Haire (Charles Stuart University, New South Wales) berkali-kali memberi pujian kepada Gus Dur yang ia nilai paling gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas. Sementara Dr. Larry Marshal (La Trobe University, Australia) menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan. Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini bukan sekali ini saja. Gus Dur kerapkali menerima sejumlah penghargaan dari banyak lembaga internasional yang bersimpati terhadap perjuangannya selama ini.
    Apresiasi semacam itu justru agak berbeda dengan situasi mutakhir di Indonesia. Belakangan ini Gus Dur tampak sedang berada pada fase-fase yang cukup sulit. Setelah tersingkir dari jabatan struktural Nahdlatul Ulama (NU), diganti oleh bekas loyalisnya, Hasyim Muzadi, kini Gus Dur harus menghadapi tekanan politik dari kemenakannya, Muhaimin Iskandar, di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Musuh-musuh ideologisnya bahkan secara terang-terangan berani memperolok-olok mantan presiden ini di depan publik. Pada sebuah acara talk show di sebuah stasiun televisi, Rizieq Shihab menyebut Gus Dur “buta mata, buta hati.” Olok-olok dan penghinaan ini kemudian diikuti oleh pengikut-pengikut Rizieq di pelbagai daerah yang tanpa sungkan membawa poster olok-olok tersebut ke jalan-jalan.
    Gus Dur tidak hanya menuai tantangan dari musuh-musuh politik dan ideologisnya. Madina, sebuah majalah yang dikenal moderat dan kerapkali menampilkan gagasan-gagasan pembaruan Islam, tidak menyebut namanya dalam daftar 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Gus Dur tersingkir dari nama-nama beken seperti Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, atau Helfy Tiana Rosa. Bahkan di kalangan kelompok moderat Indonesia sekalipun, Gus Dur tak jarang terabaikan.
    Meski begitu, apa yang terjadi pada konferensi Melbourne dan forum-forum internasional lain bukan sekedar apresiasi dan pujian, melainkan harapan. Gus Dur dianggap sebagai harapan bagi masa depan perdamaian di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya. Melalui aktivitas pembelaan terhadap kelompok pinggiran, Gus Dur telah memberi bukti bahwa Islam juga punya semangat toleransi dan perdamaian, bahkan dalam bentuk yang paling tradisional sekalipun.
    Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah sesuatu yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara jernih mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya untuk tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat tangan dan bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di garda depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya. Jaminannya adalah Konstitusi. Perkataan Gus Dur dalam sebuah konferensi pers mungkin akan sulit dilupakan para pejuang HAM dan demokrasi: “Selama saya masih hidup, saya akan tetap membela keberadaan Jemaat Ahmadiyah, karena itu sesuai dengan amanat Konstitusi.” Bagi Gus Dur, hak hidup semua orang dengan latar belakang primordial apapun adalah harga mati.
    Barangkali memang Gus Dur tidak sedang berada pada waktu dan tempat yang tepat. Aktivitas dan pemikirannya terlalu jauh meninggalkan zamannya. Hanya masyarakat maju dan tercerahkan yang bisa mengapresiasi perjuangannya. Ketika Gus Dur berjibaku dengan isu-isu perdamaian bagi negeri tercinta, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap gagasan-gagasannya justru melemah. Dalam pelbagai survey opini publik, suara Gus Dur malah anjlok ke titik terendah. Jika di dalam negeri Gus Dur dicaci dan direndahkan, untuk masyarakat internasional pecinta perdamaian, Gus Dur adalah pemimpin.

    Tak kenal maka tak sayang http://gusdur.net dan http://www.wahidinstitute.or

  8. koko Mozilla Firefox 3.0.8 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.8 Windows XP

    dasar pemikiran Gus Dur cuma 1 adalah kemanusiaan. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Ini yang kita sebut sebagai faham humanisme

  9. koko Mozilla Firefox 3.0.8 Windows XP
    Says on Mozilla Firefox 3.0.8 Windows XP

    PEMIKIRAN-PEMIKIRAN GUS DUR
    Sebenarnya, jika kita jeli, pemikiran-pemikiran gusdur itu “biasa-biasa” saja. Ia memperlakukan manusia –dan segala kerumitan didalamnya– dalam kacamata filsafat manusia. Bukankah ini adalah hal wajar, sebagaimana Al Ghazali, Ibnu Sina, Plato, Aristotle, Ibnu Rusyd pun mempelajarinya. Pemikiran-pemikirannya sebenarnya merupakan sebuah pencernaan yang panjang sebagai hasil dari hobinya yang bisa dikatakan gila baca. Buku apa saja hampir dia baca, tak peduli pemikiran-pemikiran liar macam Das Kapital-nya Karl Max, yang mungkin bagi sebagian orang, buku tersebut sangat berbahaya dan haram dibaca umat Islam karena lahir dari seorang tokoh komunis cenderung atheis.
    Ia memang terlihat seperti diktator, namun sebenarnya ia tengah “membebaskan” dirinya dan orang lain, terserah apa kata mereka. Ia seolah “tidak bisa dkritik” terutama oleh “rakyat-nya” sendiri, padahal sebenarnya ia telah berhasil menciptakan kritik yang ditujukan pada dirinya, terutama oleh orang-orang yang tidak begitu mengenalnya. Sampai disini ia telah berhasil “memancing” orang untuk bebas berpendapat dan berfikir.
    Gus Dur tidak menginginkan orang harus memahami apa yang ia lakukan. Ia seperti seorang guru yang membebaskan muridnya untuk berpendapat sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Yang diberikan Gus Dur sebenarnya adalah sebuah rangsangan, agar kita berfikir lebih kritis dalam menyikapi sesuatu, walaupun kebanyakan pengikutnya begitu patuh kepadanya, sesuai tradisi pesantren terutama dikalangan NU sendiri yang menganggap bahwa kyai adalah “segalanya”.
    Untuk memahami Gusdur, setidaknya ada salah satu hal yang bisa menjelaskan semuanya. Yeni Wahid –anak Gus Dur– pernah mengatakan bahwa dasar pemikiran Gus Dur adalah kemanusiaan. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Ini yang kita sebut sebagai faham humanisme. Jika hal ini kita pahami, niscaya kita bisa mengetahui esensi dari pernyataan-pernyataan kontroversialnya selama ini. Hal ini diperkuat oleh pernyataan-pernyataan Gus Dur dalam berbagai pidatonya. Gus Dur sering mengungkapkan tiga macam ukhuwah penting yang harus dimiliki oleh muslim, yaitu ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah/insaniyah.
    Ukhuwah islamiyah, artinya persaudaraan sesama islam. Kita merasa disatukan dengan orang karena agama kita sama. Mungkin sebagia besar dari kita telah banyak menyuarakan hal ini. Namun berapa banyak dari kita yang benar-benar care dengan sesama muslim. Kita merasa, islam kita paling bener. Akibatnya menuding orang lain gak bener. Saling tuding menuding pun terus berlanjut. Tidak sampai disitu, jika perlu adu jotos demi menyuarakan “kebenaran” nekat dilakukan.
    Ukhuwah wathoniyah, artinya merasa saudara sebangsa setanah air –sebuah slogan yang kerapkali didengungkan, bukan?. Namun kenyataannya, faham primordialisme masih mengakar kuat. Masih banyak yang lebih mengutamakan golongan sendiri-sendiri. Membela “mati-matian” partainya, sukunya, ormasnya, daerahnya dll dengan mengabaikan keutuhan bangsa dan negara. Ketika ada yang menyuarakan nasionalisme, dianggap tidak islami. Persoalan nasionalisme hanya berkutat pada masalah pesta 17 Agustusan, menyanyikan lagu wajib dll. Padahal, Rasulullah sendiri bersabda; cinta tanah air adalah sebagian dari iman, iya toh ? Mengapa mesti dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara?
    Dan yang terakhir, kita menganggap saudara kepada orang lain karena dia masih manusia seperti kita. Ini yang disebut ukhuwah basyariyah/insaniyah. Lalu jika dia hewan atau tumbuhan lantas tidak dicintai? Wuah, ini juga ndak bener. Nanti, lebih luas ke arah itu. Ukhuwah sesama makhluk hidup. Namun konsep ini terlalu luas karena tidak menyangkut hubungan antara manusia dg manusia. Nah, memanusiakan manusia. Itulah yang dilakukan Gus Dur. Kecil besar, kuat lemah, tinggi pendek, beragam warna kulit, sikap hidupnya dll adalah manusia juga yang harus dihargai hak-haknya dan kewajibannya.
    Sebagian dari kita mungkin memiliki ukhuwah islamiyah yang kuat. Namun kadang terlalu kuat, hanya bertahan di level itu. Malah ada yang tidak punya sama sekali. Mungkin ada juga sampai ke tingkat ukhuwah wathoniyah. Namun itu belum cukup jika tidak di”sempurnakan” dengan ukhuwah insaniyah/basyariyah. Inilah maksud faham humanisme/ kemanusiaan yang sering dijadikan salah satu kerangka berfikir seorang Gus Dur. Makanya, sepintas pemikiran-pemikiran Gusdur terlihat bertentangan dengan Islam. Namun sebenarnya semuanya saling bersinergi satu dengan yang lainnya. Mencintai Islam berarti cinta tanah air dan bangsa. Mencintai Islam berarti mencintai sesama manusia. Bukankah ini adalah pelajaran paling dasar dalam ilmu agama –khususnya islam– bukan?
    Selain faham humanisme yang telah dikemukakan diatas, saya juga ingin menambahkan satu hal, bahwa Gus Dur pun kadang-kadang –-tidak selalu– menganut faham “kebalikan”. Maksudnya, ia ingin menentang arus dengan pendapat umum mayoritas orang-orang. Tentu saja faham ini pun punya maksud tersendiri yang mungkin hanya Gusdur sendiri bisa menjelaskannya. Ia seolah membiarkan dirinya dicaci maki, dihina dll hanya demi tercapainya sebuah tujuan. Ia kadang bersifat seperti lilin, yang rela membiarkan dirinya terbakar habis hanya untuk memberikan cahaya dalam gelap. Namun faham kebalikan yang ia lancarkan berhasil menarik perhatian orang banyak. Dalam ilmu komunikasi, Gus Dur berhasil memancing perhatian orang untuk mendengarkan apa yang ia bicarakan. Ia berhasil membuat orang menjadi “heboh” membicarakan suatu topik masalah, untuk kemudian diangkat ke permukaan.
    Sebagai contoh, pendapatnya tentang “Assalamu’alaikum” lebih baik diganti saja dengan “Selamat pagi” atau “Apa kabar”. Alasannya, hal itu terlihat lebih Indonesia. Tentu saja hal ini membuat marah umat Islam kebanyakan. Lah kok bisa, seorang kyai bisa berkata seperti itu? Jika kita tilik secara rasional, pendapat Gusdur ini benar-benar “manusiawi”. Indonesia begitu kompleks, tidak hanya terdiri dari satu golongan saja tetapi banyak. Dari segi agama, ada islam, kristen, katolik, budha, hindu. Dari segi etnis, ada jawa, sunda, china dll. Gus Dur berusaha merangkul semuanya. Bukan sekedar membela mayoritas, tetapi minoritas pun tetap dia anggap bagian dari masyarakat juga. Inilah maksud dari faham humanisme/kemanusiaannya Gus Dur. Mengenai sikap umat Islam yang “marah” dengan pendapatnya ini, sebenarnya Gus Dur sengaja “membakar emosi” mereka agar ghirah umat islam bangkit. Berapa banyak umat islam yang akhirnya getol mengumandangkan salam, sebagai bentuk protesnya menentang Gus Dur. Banyak umat Islam berkomentar –bahkan dikampanyekan melaui tabligh– yang isinya mengupas tuntas pentingnya masalah salam, terutama bagi umat islam sendiri. Inilah maksud faham kebalikan Gus Dur. Sampai disini Gus Dur telah berhasil menjalankan misinya. Ia seolah ingin membudayakan salam dengan pendekatan yang berbeda. Disisi lain, masyarakat non-muslim pun merasa diakui keberadaannya. Inilah maksud dari ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah/insaniyah yang telah dikemukakan diatas.
    Contoh lain, saat mendirikan partai –-walaupun sebenarnya saya pun tidak terlalu suka dengan partai karena kebanyakan punya kepentingan masing-masing dan melupakan kepentingan bersama– ia emoh menggunakan asas Islam, yang sekarang ini diperbolehkan menyusul dicabutnya Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam berorganisasi melalui sebuah ketetepan MPR. Gus Dur lebih memilih asas Pancasila. Dampaknya sungguh luar biasa, mulai dari cibiran, cacian dll walapun ada juga yang memujinya. Rupanya Gus Dur telah siap dengan semua itu. Dalam kasus ini, kembali prinsip kemanusiaan ia utamakan. Terlepas dari kebijakan apakah tujuannya menggunakan asas Pancasila agar memperoleh suara banyak dalam pemilu –karena pemilihnya bukan hanya dari Islam– namun ia berusaha mengutamakan kepentingan orang banyak melalui Pancasila. Kita tahu, unsur ketuhanan yang maha esa pun diakui dalam dasar negara kita itu. Ini pun berarti pancasila pun mengakui keberadaan islam –dan lainnya– dalam kehidupan kompleks berbangsa dan bernegara. Ia bukannya emoh dengan hukum islam, tetapi lebih tidak ingin islam hanya sekedar simbolis belaka atau hukum islam tidak dijalankan secara kaffah (menyeluruh). Ia juga tidak ingin memecah-mecah suara islam dalam kotak yang berbeda-beda. Kalo asasnya kebangsaan, sudah wajarlah Islam memang harus ada di mana-mana. Tapi kalau banyak partai berasas islam, tentu saja suara islam seakan-akan terlihat pecah, dianggap tidak solid dimata agama lain. Yang lebih parah, jika ada anggota partai islam itu yang tidak bersikap sesuai syariat islam, misalnya melakukan korupsi, kolusi dll. Wuah, ini jelas-jelas akan menjadi preseden buruk bagi nama islam sendiri toh?
    Mungkin setidaknya dua hal ini -–yakni faham humanisme dan faham kebalikan– dari dua contoh diatas yang bisa digunakan untuk menjelaskan pemikiran-pemikiran “menyimpang”nya selama ini. Namun Gus Dur terlalu kompleks. Paparan yang saya jelaskan diatas mungkin saja hanya sebagian kecil dari kekompleks-an seorang Gus Dur yang pernah hidup diberbagai lapisan masyarakat –yang juga kompleks.
    Emha Ainun Najib pernah punya pengalaman unik bersama Gusdur yang akhirnya mengantarnya pada pemahaman seorang Gus Dur. Suatu hari Cak Nun –-panggilan akrab Emha Ainun Najib—bertamu kerumah Gus Dur. Ia disambut Gus Dur dengan menawari sebuah minuman. Ketika minuman yang menggugah selera itu telah terhidang di atas meja, Gus Dur mengatakan terlebih dahulu kepada Cak Nun bahwa sebelum minuman itu terhidang, gelasnya telah ia cuci kemudian di-lap dengan menggunakan (maaf) celana dalam miliknya. Kekagetan Cak Nun tidak berhenti sampai disitu ketika Gus Dur pun mengatakan bahwa karena sendoknya tidak ada, maka untuk mengaduk minuman tersebut menggunakan sikat gigi miliknya yang ada di kamar mandi. Tentu saja Cak Nun makin kaget. Keinginannya untuk segera menyeruput minuman “nikmat” itu hilang seketika mendengan pengakuan jujur seorang Gus Dur. Ia ragu untuk meminumnya karena dibayang-bayangi perasaan jijik, mual dan lain sebagainya. Seperti tahu keengganan Cak Nun dengan minuman yang telah terhidang diatas meja tersebut, Gus Dur pun mengatakan, “Sampeyan jangan merasa jijik dengan minuman itu. Tenang saja kok, semuanya masih baru—maksudnya celana dalam dan sikat gigi tersebut”. Akhirnya, Emha Ainun Najib sadar dan merasa paham dengan pemikiran-pemikiran “nyleneh” Gusdur selama ini.
    Gus Dur seperti hendak membalik logika berfikir kita. Ia tidak seperti kebanyakan yang hanya bisa setuju dengan pendapat orang tanpa tahu pendapatnya sendiri –-dalam bahasa agama ini yang disebut taqlid buta. Kadang pemikirannya jauh melampaui rakyat yang dipimpinnya sendiri. Ia terlalu visioner. Ibarat sebuah kapal jet ia melaju sangat kencang meninggalkan rakyatnya sendiri yang masih berkendara sepeda. Makanya, kadang jalan pikirannya kurang dimengerti oleh banyak orang karena manuver-manuver berbahaya yang ia lontarkan dalam kehidupan bermasyarakatnya (entah itu politik, sosial, keagamaan, ekonomi dll). Malah ada yang menganggapnya wali segala –serupa dengan Syekh Siti Jenar. ia kadang berfikir diluar kerangka berpikir masyarakat pada umumnya. Jalan pikirannya seolah keluar dari kotak yang telah digariskan –berfikir out of box–. Yang ia ungkapkan dalam pemikirannya adalah esensinya saja. Hal ini tentu saja sangat membingungkan masyarakat yang belum siap untuk maju. Seperti seorang petani ndeso yang dihadiahi sebuah komputer super canggih. Kadang kita terlalu berpikir hitam putih dalam menilai sesuatu. Padahal, kenyataannya dalam hidup bermasyarakat tidak sesederhana itu. Warna masyarakat tidaklah hitam putih, tetapi abu-abu dengan kadar gelap terangnya yang bervariasi. Nah, Gusdur berfikir dalam kerangka wilayah itu.
    Ke“nyleneh”an Gus Dur tidak datang begitu saja, tanpa pikir panjang. Tapi hal itu muncul sebagai akibat interaksinya dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, status sosial, pemikiran yang berbeda-beda. Ia “meniru” para kyai sepuh yang mungkin lebih nyleneh dari dirinya —hanya saja kenylenehan mereka tidak tampak secara luas di masyarakat umum. Hal ini dkombinasikan dengan pengetahuan yang ia dapatkan dari berbagai macam buku yang ia baca, persentuhannya dengan dunia luar (di Mesir, Irak, Belanda, Kanada dll). Ia menyerap banyak hal dari pengalamannya, kemudian akhirnya menghasilkan pemikiran baru khas Gus Dur. Sungguh, ini bukanlah sebuah perjalanan yang bisa ditempuh dalam waktu singkat. Butuh proses yang sangat panjang, dan proses itu masih berlangsung sampai kini.
    Hal ini bisa dipahami. Anaknya sendiri pernah bilang kalau sang bapak sebelum mengemukakan sebuah statement, jauh hari sebelumnya Gus Dur telah memikirkannya matang-matang. Bahkan perubahan itu tampak pada sikap kesehariannya seperti menjadi tampak serius. Ini jauh berbeda dengan anggapan masyarakat umum yang menilai Gus Dur kalo bicara suka ceplas ceplos, seenaknya sendiri seolah nggak dipikir dulu. “Ini sungguh berbahaya!” kata mereka.
    Namun sekali lagi, Gus Dur juga seorang manusia, yang bisa saja salah. Seorang wali bahkan nabi pun pernah melakukan kesalahan. Maka tidaklah pantas kita terlalu mengagung-agungkannya, mengkultus individukannya, bersikap ashobiyah–fanatisme berlebihan. Sama tak pantasnya kita mencacinya berlebihan pula, bahkan sampai menganggapnya “gila” bahkan murtad –keluar dari islam. Setidaknya dia hanya seorang anak bangsa –bahkan sekarang malah ada yang sudah menganggapnya sebagai guru bangsa– yang telah menyumbangkan pemikirannya untuk bangsa ini, terlepas dari pemikiran-pemikirannya yang sangat kontroversial itu. Namun justru disetiap kesempatan, orang-orang masih tertarik atas komentar-komentar “ngasal” Gus Dur. Dengan harap-harap cemas, masyarakat tertarik juga untuk sekedar mendengar pendapat Gus Dur –entah itu dari pendukungnya atau lawannya. Akhirnya, saya hanya bisa tersenyum geli ketika Gus Dur siap-siap melancarkan pemikiran nylenehnya ke masyarakat. Entah, lakon kehidupan apalagi yang akan ia perankan.
    Semua diperbolehkan untuk berkomentar, entah benar ataupun salah tidak ada ukuran baku yang bisa menilainya. Tergantung dari sudut pandang apa ia menilainya. Seperti halnya pendapat saya dalam tulisan ini, bisa benar atau mungkin bisa saja disalahkan –bahkan oleh Gus Dur sendiri. Lha wong namanya juga pendapat, iya toh?
    • Kata Hati
    Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya; hidup di tepi jalan dan dilempari dengan batu, tetapi dibalas dengan buah (Abu Bakar Sibli)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>